Pintu Terbuka? Tertutup?

"Wah, pergantian presiden sebentar lagi loh.. Kira-kira kamu mau pilih siapa?" Ada apa dengan orang satu ini? Kesetanan apa dia? Saya masih belum bisa percaya sepenuhnya dengan sesuatu yang baru dia ucapkan. Maksudnya, tampak tidak seperti biasanya.


"Apa kandidat presiden sudah ada?" Itu hanya sekedar, jika hal ini adalah situasi genting, saya hanya akan melanjutkan minum sehelai seloki berisi arak bali. Udara berkawan asap rokok mengepul, mengitari kepala. Rambut panjang saya mengajak mereka, sama, hanya sekedar.
"Sepertinya sudah ada. Kenapa tidak kamu mencoba menonton di siaran televisi? Mereka bahkan sudah menyiarkan tayangan kampanye."
"Oh iya? Tapi sayang, di kontrakan tidak punya televisi."
"Pun saat berselancar di dunia maya?"

Saya hanya diam, semakin larut dalam alunan musik yang diputar tempat beristirahat malam ini. Saya tidak ingin mengecewakan seseorang, saya bukan orang dengan sifat anti sosial.
"Kalau kamu sendiri bagaimana? Sudah menentukan pilihan?"
Saya mengembalikan pertanyaannya, hanya sekedar, hanya ingin dia tahu bahwa saya bukan orang yang jahat.

"Sejak menjadi pemilih pemula saya tidak pernah berkontribusi menyumbangkan suara. Bukan karena fanatik terhadap salah satu calon atau dengan alasan memang tidak tersedia calon yang bagus. Tapi karena saya memang malas memilih presiden. Saya percaya bukan seperti ini seharusnya presiden dipilih. Mengandalkan suara mayoritas? Bahkan monyet pun jika hampir sembilan puluh persen dari penduduk Indonesia memilih dan menang. Mau kamu punya presiden monyet?" Saya kembali menatap kedepan dengan pandangan kosong menikmati musik berdendang lembut.

"Saya punya calon dari partai unggulan saya." Kawan saya kembali melanjutkan.
"Siapapun dia, asalkan mereka dicalonkan oleh partai tersebut." Raut dengan keyakinan penuh memancar dari wajahnya. Dia menghisap rokok dengan menyembulkan beberapa asap lewat hidung. 
"Kamu kenapa tidak punya partai idola? Coba lihat sekarang, terbukti bukan?  Presiden dari partai jelek dengan kinerja jelek juga!" Dia melemparkan kembali pertanyaan kepada saya.
"Lihat juga wakilnya, oh kawan, dia tidak pernah bekerja! Lagi pula kasus yang menimpa sang wakil, cerminan bahwa orang berkuasa memang susah untuk dibawa ke meja hijau." Dia bermuka masam, bibirnya mencibir saat menenggak seloki. Arah bola matanya mengenai tatapan saya. Kepalanya sedikit di miringkan melihat saya tanpa menjawab pertanyaan. 
"Yaa, itu kamu sudah tau kan? Seharusnya kamu tahu juga, bahwa saya adalah salah satu orang yang tidak mengikuti perkembangan politik." Dia tertawa mendengar pernyataan lucu saya.
"Dasar kamu ini. Seharusnya kamu tidak menutup diri dengan hal sensitif seperti ini."

Beberapa menjelang puluh botol arak bali sudah kami berdua pesan. Untuk kami, lebih pun memesan minuman berkandung alkohol, tidak akan terlalu memengaruhi terhadap kondisi kritis saat membicarakan sesuatu serius seperti ini. Berbicara tanpa dibarengi menghisap rokok dan meminum alkohol, rasanya sangat hambar. Ternyata otak kami sudah teracuni dengan sempurna oleh produk dari sebelum masa penjajahan dahulu. Kami sering berkumpul, biasanya dengan beberapa kawan untuk sekedar melumpuhkan tegang otak.

"Lihat, kita masih muda! Tekanan dalam kondisi apapun akan kita kalahkan dengan tekad!" Dia berorasi hanya untuk meyakinkan saya bahwa kondisi politik harus kita pantau.
"Walaupun sebagai masyarakat sipil, kita tidak boleh menyerah untuk melakukan perubahan! Setidaknya di lingkungan sendiri." Perkataan keras mungkin akan memerlukan banyak makanan, bahkan dia menjamah semua makanan ringan. Saya hanya santai mendengar hal ini karena sudah sering terjadi jika berada di beberapa level botol.

"Ayoollaahh... Lihat kondisi negara saat ini, kawan! Presiden kita hanya bisa menyanyi, memukul gong, bermain gitar, membuat album, nonton bioskop, main voli, marah-marah karena pengeras suara saat dia pidato mati tiba-tiba dan demi seloki ini, apa gunanya dia setiap hari melakukan pencitraan?".

Sudah lebih dari dua jam kami bercokol di cafe ini. Alunan musik semakin sendu seiring beratnya mata kawan saya dengan tetap melanjutkan obrolan demi obrolan. Bedanya, kali ini kawan saya mendominasi pembicaraan.
"Lantas seberapa yakin kamu dengan calon dari partai yang sepertinya kamu banggakan?"
"Yakin, dan sangat! Partai idola saya jelas berbeda. Sikap yang jelas sangat terlihat dari cara para wakil di pusat mengambil keputusan."
"Tetap, apapun itu, restu dari petinggi partai harus mereka dapatkan bukan? Terlihat seperti bukan dari pemikiran sendiri untuk kepentingan rakyat." Dia menatap serius mata saya. Menjaga gerak hitam bola mata. Memburu, mengunci.
"Hei, ada apa dengan pertanyaan ini? Kenapa sangat terasa seperti kasar?"
"Bandingkan dengan kalimat indah dari lidahmu barusan, bukankah level pertanyaan saya sangat rendah?"

Kami terdiam untuk menenggak seloki. Asbak lingkar putih bergambar salah satu merek rokok memuntahkan puntung. Sebiji dua biji puntung berserak ria disekitarannya. Saat pelayan datang membawakan botol baru, pemandangan puntung kumuh terhapuskan.

"Begini kawan. Ehm, bedakan, saya ada di dalam partai. Pernyataan saya merupakan lanjutan dari kekecewaan pengurus tinggi partai. Tapi kamu? Jangankan mencoba masuk partai, berpartisipasi dalam pemilihan umum pun terasa enggan, bukan? Apa bedanya kamu dengan para penjahat yang menentang keberadaan polisi?" Dia menyalakan rokok dan menghembuskan asap tebal ke wajah saya.

"Sepertinya memang benar, saya sadar tidak mempunyai kelompok untuk merubah negara ini menjadi lebih baik. Tapi apapun pilihan kita bukankah itu juga hak?"
"Itu adalah keputusan berat untuk menjadi seseorang di dalam negara tanpa harus memikul tanggung jawab juga. Pengecut?"

"Santai dulu kawan. Kamu masuk ke dalam sistem partai yang tidak memenangkan seorang presiden, apa nantinya akan mendukung presiden dari partai lawan? Seharusnya kamu mendukung dengan cara bekerja sesuai dengan visi misi partai. Parahnya terlihat seperti menjadi beban bagi presiden untuk kemajuan bersama."

Dia terdiam, memberikan ruang lagi kepada saya untuk berbicara. Lelah? Sepertinya tidak begitu. Kawan saya satu ini memang hobi bertukar beban pekerjaan. Saya adalah orang dengan berjuta senjata berat dalam mulut.
"Yang kita butuhkan solusi, bukan perlombaan untuk semacam elektabilitas partai. Sandar sindir, saling tuntut, caci maki, iri dengki, hei, apa kalian masih golongan anak-anak TK?"
"Dan partai saya menang!"