Pasar Seni

"Tolong antarkan kita jalan-jalan ke pasar seni, bisa?"
"Kalau tujuannya ke pasar seni, sepertinya bukan jalan-jalan namanya umi, tapi belanja!"

"Hahaha, kamu bisa saja. Kita kan sudah umi-umi jadi harap mengerti kebutuhan kita jika dapat kesempatan melancong."
"Iya nih, jika di kota cuma ada mall dengan barang yang sepertinya sudah beredar di seluruh negeri. Bosan saya melihatnya."
"Namanya juga mall umi. Barangnya pasti itu-itu saja."

"Permisi pak, tolong dibeli satu saja barang saya. Lihat, ini ada patung yang di ukir dari tanduk hewan, asli! Demi keluarga saya, saya sendiri yang memahat. Tolong lah pak."

Seorang pria masih kuat, berperawakan gempal. Jika dilihat dari segi umur, kira-kira masih kepala tiga. Terlihat tidak ada yang salah, saya yakin dia sehat, bahkan sangat! Dua tas besar berselempang di kanan-kiri badannya. Mungkin barang dagangan lainnya. 

"Kasihani saya pak. Tidak apa-apa, pegang saja dulu. Rasakan jika patungnya memang kualitas bagus. Ini cocok untuk ditaruh di meja kerja. Sudah...."
"Tapi, tapi pak.."
"Silahkan, atau bapak mau ukuran lebih besar? Ini ada pak. Di dalam patung ini bisa ditaruh lampu. Untuk lampu tidur kamar bapak, akan terlihat romantis. Istri anda pasti akan suka."
"Saya belum punya istri, lagi pula saya..."
"Oh, masih bujang? Selain patung, saya juga ada kalung dari perak asli. Kalau bapak membeli di toko seni ternama, harganya bisa sangat mahal. Karena selain ongkos tukang mahal, biaya sewa toko juga menjadi faktor. Makanya saya bawakan kesini dengan harga miring khusus untuk calon suami idaman seperti bapak."

Suapan demi suapan tetap saya lanjutkan. Para umi-imu penggila belanja saya biarkan berkeliaran di pasar. Mengikuti mereka mengelilingi pasar seni? Saya tidak yakin akan hal itu.

"Aduh, saya kesini cuma mengantar teman pak. Hanya beberapa rupiah saja tersedia di dompet."
"Tenang saja pak, itu bukan masalah besar. Barang ini bisa dibawa dulu, kan besok saya masih jualan disini. Itu merupakan bagian dari garansi untuk kualitas barang. Jangan ragu, silahkan, bapak pilih yang mana? patung yang besar dan kalung? Saya bungkus semuanya pak?"
"Tidak pak, maaf."
"Wah, bapak ini memberikan saya harapan palsu. Susah payah saya berbicara tapi bapak tidak menghargai. Ayolah, beli barang saya, tolong. Anak saya akan masuk sekolah baru. Darimana saya akan mendapatkan uang jika tidak dari barang dagangan saya."

Sepertinya ada yang salah dengan penjual ini. Seakan hanya saya pengunjung di pasar. Dia tidak berusaha menjual kepada pengunjung lain. Saya benar-benar tidak membawa uang saat ini. Untuk makan saat ini, saya di bantu oleh teman.

"Begini pak ya. Kita sama-sama orang tidak punya. Yang berkepentingan melancong kesini adalah empat teman saya. Saya juga sedikit terganggu dengan cara berdagang anda. Jadi tolong beri saya ruang untuk bersantai sedikit. Capai saya pak dari kemarin mengantar mereka jalan-jalan."
"Wah, bapak ternyata supir tamu? Pasti banyak uang. Masa berbagi sedikit dengan saya tidak mau. Berbagi rejeki itu banyak pahala. Silahkan lanjutkan makan, saya akan tunggu sementara saya membungkus pesanan bapak."
"Kenapa anda tidak mengerti juga? Saya tidak perlu dengan barang itu."

"Iya umi? Sudah selesai belanja? Saya masih makan."
"Lho? Kenapa kamu makan duluan?"
"Hah? Apa? Sinyal telepon saya jelek."
"Aduh kamu ini, cepat ke tempat parkir. Kita sudah selesai merampok."
"Iya mi, sebentar."
"Berapa bu belanja saya?"
"Sebelas ribu rupiah dik."

"Ini pak barang bapak juga sudah saya bungkus dengan rapi. Total semuanya dua ratus dua puluh lima ribu rupiah."
"Hah? Saya sudah katakan dari awal saya tidak bawa uang. Kok main jumlah seenaknya? Ini seperti pemerasan pak. Tolong mengerti keadaan saya pak."
"Bukannya bapak tidak menjawab apa-apa tadi? Saya kira bapak setuju untuk membeli barang saya."
"Saya ingin menjawab, tapi bapak potong omongan saya."
"Lantas, bagaimana dengan nasib barang dagangan saya? Tolong pak, bapak tidak bisa memperlakukan saya seperti ini. Bertindak semena-mena kepada orang kecil seperti saya. Bapak tadi sudah makan enak, sedangkan saya belum makan apa-apa dari tadi pagi. Jangankan makan, untuk membeli air saja uang saya tidak cukup. Dengan sabar saya menunggu bapak untuk selesai makan tapi sikap bapak kasar sekali. Coba bapak cari-cari di sekitaran daerah ini, harga barang seperti ini bisa dua kali lipat dari harga yang saya tawarkan untuk bapak. Kan sudah saya bilang dari tadi, jika belum ada uang, ambil saja dulu barangnya dan besok saja bayar."