Pancasila Ada Berapa

Kasidah tembang lengkingan hewan jangkrik makin keras terdengar. Asalnya dari arah timur rumah. Saya kurang tahu pasti kenapa tetangga saya di sebelah timur tetap memelihara kebunnya sampai sekarang.
Bersama dengan kawan, kebun itu kami kuasai pada siang hari. Tidak ada alasan apapun di dunia ini yang bisa menghilangkan niat kami untuk tidak kesana. Beberapa pohon pisang, rambutan, kelapa kuning dan tanaman rambat terpelihara menjadi payung saat matahari terik dan hujan. Merasa tidak tega, pak mangku membuatkan kami semacam gubuk seukuran 3x3 meter untuk sekedar berteduh. Saya tidak terlalu yakin, sepertinya gubuk itu bukan untuk kita. Betapa bermacam barang tergelebar acak-acakan. 

Jika pak mangku menunggu panen, kami dengan senang membantu mengusir hama sebelum panen. Berbagai ilmu permainan kami terapkan disini. Petak umpet, rumah-rumahan, main kelereng dan oh, saya lupa dengan berbagai permainan ciptaan kami. Capai bermain kami biasanya bersantai sambil menggelar beberapa tikar juga cemilan bekal dari rumah. Kadang pak mangku menyediakan buah hasil panen di kebun ini. 

"Jangan terlalu banyak bermain, menyelesaikan tugas sekolah akan lebih bermanfaat." Terlihat pak mangku ikut duduk dengan kami. Beberapa lembaran media cetak tergopoh di tangannya.

Masing-masing dari kami berbeda dua tingkatan kelas. Hanya saya dan dua teman saja mengerjakan pekerjaan rumah. Sisanya berguling-guling meracau tidak jelas di tikar dari bahan daun pandan.

"Setiap hari ada saja pekerjaan rumah dari sekolah. Benar-benar merepotkan." Saya menoleh teman yang memang dari tadi selalu mengernyitkan alis karena tugas matematika masih belum selesai. 

"kamu masih enak, tugas saya sangat berat untuk ujian kelulusan sekolah nanti." Terdengar teman kelas enam menimpali dengan rasa putus asa. Pak mangku hanya tersenyum mendengar rengekan mereka.

"Kamu kok boros sekali dengan tas sekolah? Hampir setiap tiga bulan sekali harus ganti yang baru." Saya hanya diam mendengar kata tiada pernah habis dari ibu. 

"Lihat, belum lagi kamu minta uang untuk beli buku." Kepala saya semakin merunduk mendengar kerasnya raungan itu. 

"Kakakmu juga sebentar lagi mau masuk sekolah baru, beli baju lagi, buku.. Aaahhhh..." Ibu saya ngeloyor masuk dapur. Kembali memasak untuk makan malam. Saya masih tertunduk sambil melihat-lihat cara memperbaiki tas ransel.

"Sini, kakak bantu memperbaiki tas kamu. Ini cuma perlu di jarit saja. Lihat, hanya pegangannya yang lepas." Tangan kakak saya dengan cekatan menjarit rapi tas saya.
"Memang mbok luh mau sekolah di SMP mana?"
"Di SMP dekat kota."
"Wah, Di kota? Kapan-kapan belikan saya mainan disana." Kakak saya hanya tersenyum sembari memandangi beberapa mainan usang bekas pemberian dari beberapa teman saya.

Didalam kelas saya mengeluarkan lima buku untuk pelajaran Pendidikan Moral Pancasila. Teman begundal di sekitaran tempat duduk berbisik dengan canda bodohnya. Dan terjadi lagi, kami dihukum berdiri di lapangan sampai jam pelajaran selesai. Tidak seburuk pandangan teman dengan predikat pintar, hukuman ini kami laksanakan tanpa beban, canda gurau, membahas isi buku pelajaran. Beberapa peristiwa seperti ini menjadikan kami bosan untuk belajar berteman meja kotak keras dari kayu. "Kenapa saya merasa nyaman belajar seperti ini? Hembusan angin, pandangan mata tidak terbatas."
"Bukan berarti kamu bosan untuk sekolah kan?" Saya berkelakar untuk meriuhkan suasana sepi lapangan sekolah.

Bruuaakkk... Terdengar suara tumpukan dua kardus bekas mi cepat saji. Nampak penuh dengan berbagai macam jenis bungkus rokok bekas. Teman saya sengaja menghempaskan tepat di tengah-tengah lingkaran duduk kami di kebun.
"Nihh, lihat koleksi bungkus rokok saya. Saya menangkan kemarin dari beberapa pertandingan di kampung sebelah." Saya dan teman lainnya melihat dengan mata berbinar.
"Cuma bungkus rokok? Bandingkan sama punya saya. Ini koleksi kelereng, kartu remi dan kardus sebelah lagi koleksi buku tulis."
"Hah? Koleksi buku tulis?"
"Iya, Buku tulis! Jangan-jangan kalian tidak pernah ikut pertandingan semacam ini?" Kami hanya bengong melihat kardus penuh dengan buku tulis. Sepertinya masih baru dan bersih.

"Cara mainnya gampang kok. Kalian pernah main pancasila ada berapa, kan? Nah, yang kalah akan memberikan buku tulisnya."
Terpingkal kami di buatnya. Apa? Lelucon macam apa ini? Kami kira itu adalah permainan serius, maksudnya semacam permainan dengan menggunakan seluruh kerja otak.
"Loh kenapa? Susah tahu main pancasila ada berapa."
"Iyaa sih susah, tapi kami kira hal itu semacam lomba cerdas cermat." Teman saya menjawab tanpa bisa berhenti meneruskan tawa.
"Ayolah, sepertinya itu sudah lebih dari pengalaman kita mendapatkan pengetahuan. Coba kita behenti di huruf Z, untuk nama buah. Ada yang bisa menjawab?"
"Ada! Itu buah Zambu!"