Kuliah?

"Apa kabar dengan jakarta? Masih kah ramai beberapa penantang maut berdatangan?"
"Nampak sampai tahun ini, semua dan segala yang berkaitan dengan jakarta selalu itu - itu saja dari waktu ke waktu. Kenapa? Kamu kangen jakarta de?"

"Kangen jakarta? Tidak juga wa, saya masih bisa menikmati hari indah di bali. Hahaha.."
"Harusnya kamu melihat jakarta untuk sekarang ini. Sepertinya tahun kemarin kamu sempat ke jakarta bukan?"
"Sudah lama wa. Sekitaran beberapa tahun lamanya. Bagaimana dengan kawan lainnya disana?"
"Mereka masih tetap disana. Namanya juga kan tanggung jawab. Masa mau di lepas begitu saja karena alasan tidak betah tinggal di jakarta."
"Semangat juang mengalahkan semuanya! Haha. Saya hargai mereka disana. Tapi ya begitu, saya tidak bisa memberikan apa - apa untuk mereka. Keinginan saya sih memberikan sumbangan mi instan satu kardus setiap bulan. Ya kamu tahu sendiri lah wa, penghasilan saya tidak selalu datang setiap bulan."
"Harus saling memaklumi nampaknya. Dan hei, ada apa dengan mobil ini? Kenapa terasa sangat sunyi."
"Haha, alatnya rusak wa, belum bisa membeli alat yang baru."

Dia memandang padat lalu lintas tanpa menanggapi jawaban saya. Seperti yang saya tahu, kawan saya ini biasanya tidak tahan dengan udara panas. Entah, kali ini dia nampak nyaman dengan jendela terbuka. Harusnya dia menyalakan pendingin udara.

"Hei, kenapa kamu pindah kuliah lagi de? Apakah agar terlihat kaya? bagitu?"
"Hahaha.. Saya tidak sesombong itu. Kamu tahu sendiri kan saya seperti apa? Susah harus menetap lama jika tidak ada yang bisa menarik perhatian. Apalagi kalau masalah kuliah. Kadang saya berfikir, kenapa pikiran ini tidak bisa fokus.
"Dan?"
"Dan ternyata,  karena saya memang tidak suka dengan beberapa pelajaran kuliah di kampus itu. Apalagi jika beberapa dosen mengajar tanpa kualitas. Belum lagi biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Untungnya di kampus baru saya mendapatkan beasiswa."
"Yakin bisa bertahan sampai wisuda di kampus baru?"
"Yah, sampai saat ini masih merasa betah, sepertinya rasa bosan akan muncul lagi. Egois memang."

"Berarti sumber utama ada pada dirimu sendiri de. Kenapa harus menghitamkan kambing? Apalagi jika harus menilai beberapa dosen tidak berkualitas."
"Hei, mereka seolah bak artis teater, melakukan monolog! Lainnya bagaikan penuntut umum! Pemalas, ya, mereka membuat janji tanpa ditepati! Bhuta Kala, harus disuguhi sesajen! Ahhh."
"Kamu masih manusia, bukan?"
"hah?" 
"Seseorang kan punya kelemahan dan kehebatan. Coba, harusnya kamu sebagai mahasiswa sudah bisa berpikir untuk dapat memaklumkan hal itu."

Giliran saya memandang padat jalanan. Lurus tanpa tikungan. Harusnya, kondisi jalan seperti ini membuat pengendara akan memacu laju, tenang, saya bukan seseorang yang suka menginjak pedal tanpa ampun. Kawan saya berdendang sembari memerhatikan wajah kecut saya. Senyum licik keluar dari mulut besar berwajah sombong, seakan dia memegang piala kemenangan!

"Jauhkan asap rokokmu dari wajahku! Jalanan sudah panas de! Jangan menambah polusi di dalam mobil!"
"Ayolah, siapa sekarang yang egois tuan sok bijak? Hahaha"
"Saya tidak bisa memberikan rasa toleransi terhadap hal ini de! Dasar, perusak kesehatan!"
"Kamu masih manusia, bukan?! Kamu sudah sarjana lho. Sepertinya saya tidak berhak untuk mengajarimu lagi tentang bagaimana memaklumi sesuatu."
"Tidak untuk hal seperti ini."
"Berarti bukan memaklumi namanya. Masa memaklumi ada batasan?"
"Kita manusia, bukan Tuhan yang maha segala!"
"Nah itu dia, sama berarti kan?"
"Beda de! Dosen juga manusia..."
"Apa saya dan kawan mahasiswa lain tidak kamu lihat sebagai manusia? Manusia yang masih membutuhkan penuntun untuk belajar."
"Iya sih.."

"Sekarang saya tanya sama kamu wa. Tugas dosen apa?"
"Ya mengajar."
"Kamu pernah memperhatikan tidak dosen kamu bersikap layaknya psikopat?"
"Hah?"
"Mereka hanya menilai kita dari sebuah huruf dan angka! Tapi mereka lupa bagaimana caranya mengajar dengan baik. Seorang guru besar harusnya bisa memberikan ilham kepada anak didik melalui sikap dan pengetahuan sesuai bidang. Ada apa dengan mereka? Parahnya mereka malah menyalahkan kita karena tidak bisa mengerti, juga saat kita berbeda literatur."

Saya lihat dia beberapa kali menggelengkan kepala. Merasa heran, mungkin seperti; Hei, apakah kamu sudah menjual kewarasanmu? Iya, mungkin. 

"Tidak semua dosen seperti itu, saya sangat yakin."
"Semuanya! Mereka memaksa kita dengan pola belajar jauh dari rasa kemanusiaan!"
"Mereka menunjukkan bagaimana menghadapi hidup yang sebenarnya de!"
"Oohh jadi dari perguruan tinggi tercipta model kehidupan yang keras tanpa rasa manusiawi? Hidup harusnya sangat mudah jika setiap individu tidak egois dengan menunjukkan kehebatan kepada orang lain."
"Maksudmu?"
"Bukankah itu semacam kompetisi? Jelas! Kompetisi! Buat apa hal itu tercipta?"
"Ya, agar hidup kita berkualitas?"
"Kualitas? Bagaimana mereka bisa menerima hal itu?"
"Masyarakat yang akan menilai kita seberapa besar jiwa kita menghadapi semuanya. Sejauh mana kedewasaan kita dalam menjalani hidup. Begitu de."
"Iya? Lalu kita akan terbiasa memangsa yang lemah dan miskin karena mereka berperang tanpa senjata yang memadai. Bukankah itu disebut hukum rimba. Kamu tahu sendiri kan wa?"
"Jangan dibawa menjadi pandangan hidup yang negatif de. Kalau pikiranmu positif, semuanya akan berjalan lancar."

"Sebentar de, di toko depan tolong berhenti. Saya ingin membeli sesuatu. Ada sesuatu yang ingin kamu beli juga?"
"Eh boleh deh, belikan saya minuman dingin, sebungkus rokok dan beberapa makanan ringan biar asik berbincang."

"Wah, Gila! Penjaga toko ini cantik! Seharusnya kamu ikut."
"Hahaha. Apa kamu sudah mendapatkan nomer teleponnya?"
"Belum, bodohnya saya tidak bertanya sejauh itu."
"Lalu namanya?"
"Tidak juga, saya sedikit canggung karena kecantikannya."
"Aaaahhh, sudahlah, entah, kenapa saya sampai punya kawan pemalu seperti kamu."
"Hahaha... Ini barangmu. Rokok kretek kan?"
"Terima kasih wa. Saya kira kamu tidak akan membelikan saya rokok."
"Kasihan, saya takut nanti kamu ngambek."
"Dasar, kamu pikir saya anak kecil?"
"Eh, sudah dewasa toh?"
"Diatur sajalah, pak."
"Hahaha.."

Kami melanjutkan perjalanan menuju rumah saya. Kalau tidak hari sibuk, waktu jarak tempuh dari bandara seharusnya tidak sampai lebih dari tiga jam. Populasi kendaraan sudah meningkat seiring dengan jumlah populasi manusia. Entah, saya tidak harus berpusing ria untuk masalah ini.

"Terkait dengan kuliah, kamu tahu kan dulu sempat ada isu mengenai RUU BHP? Pernah mendengarnya wa?"
"Sempat dengar, tapi saya tidak terlalu mengikuti perkembangannya. Kenapa de?"
"Tidak, sudah di jadikan UU apa belum ya?"
"Kamu khawatir biaya pendidikan akan semakin meninggi?"
"Kadang juga pemerintah selalu punya alasan untuk memotong dua puluh persen jatah pendidikan dari APBN. Jika hukum kita sehat, Mahkamah Konstitusi pada Tahun 2005 telah memutuskan bahwa pencatuman anggaran pendidikan 9.1 persen dalam APBN 2006 melanggar Konstitusi, karena tidak memenuhi alokasi anggaran pendidikan dua puluh persen sebagaimana amanat UUD 1945. Putusan ini dilakukan MK, karena setelah Persatuan Guru Republik Indonesia dan Ikatan. Sarjana Pendidikan Indonesia  mengajukan hak uji materiil terhadap UU APBN 2006. Namun MK menolak permohonan penghentian sementara UU APBN 2006, karena dikhawatirkan akan menyebabkan kemacetan dan kekacauan penyelenggaraan pemerintahan ditambah pertimbangan soal angka inflasi dan pembayaran utang pokok luar negeri. Ditekankan pula bahwa putusan ini mengikat secara hukum, pemerintah dan DPR memiliki kewajiban untuk menambah anggaran pendidikan 2006 menjadi dua puluh persen."
"Itu kan di Tahun 2006 de?"

"Nah, untuk Tahun sekarang ini, saya juga kurang mengikuti, wa. Sudah tidak ada lagi kawan bertukar pikiran mengenai masalah ini. Semua kawan sepertinya sangat menikmati hidup damai mereka."
"Berarti kamu seharusnya tinggal di jakarta. Disana banyak kawan yang masih peduli dengan lingkungan sekitar."
"Terus biayanya?"
"Ya kamu bisa kerja disana. Jangan sok manja deh kamu."
"Hahaha.. Saya kira kamu akan menjawab, iya saya yang membiayai kamu disana."
"Jangankan membiayai orang lain, hidup untuk diri sendiri saja sangat susah."
"Lalu, kamu mau melanjutkan pendidikan lagi?"
"Masih menunggu jawaban beasiswa de. Akan susah urusannya nanti jika tanpa bantuan beasiswa. Coba, untuk biaya makan sehari-hari saja susah, belum lagi melanjutkan pendidikan. Mau mencari dana dimana coba?"
"Kan bisa mendapat dari kantor tempat kamu kerja?"
"Ya kamu bisa kerja disana. Jangan sok manja deh kamu."