Kartal Giral

"Saya pesan paket ayam dan air mineral ukuran tanggung."
"Pesan apa ya, aduh, iya, ikan goreng dan es kelapa muda."

"Bagaimana perasaan kamu? Apa ada yang berbeda dengan rumah kamu? Setelah beberapa tahun kamu tinggalkan?"
"Entah, cuma merasa seperti berbeda dari sebelumnya. Selain itu tidak ada yang istimewa."
"Bapak dan ibumu pasti sangat terkejut melihat anak durhaka mereka akhirnya pulang."

Bagaimana saya harus menjelaskan semua kepada seorang wanita seperti dia. Nampak dia masih memburu jawaban saya. Memandang tajam ke arah mata dan mulut, akhirnya menggeleng tidak puas.

"Berarti semua proses upacara sudah selesai?"
"Masih ada yang belum."
"Upacara apa itu?"
"Bukan upacara. Itu seperti layaknya mereka kehausan, jadi sekarang masih membahas pembagian air mineral satu galon. Berapa gelas yang akan mereka dapatkan."
"Iya, itu sudah menjadi lumrah pada umumnya. Setiap keluarga besar akan mengalami hal itu."

Saya merasa tidak enak melanjutkan pembicaraan ini. Bukankah akan terlihat seperti keluhan anak kecil? Saya sendiri tidak yakin dengan apa yang terjadi. Mulut saya seakan sangat ringan untuk di gerakkan. 

"Parahnya adalah mereka saya lihat bagai burung hering. Berputar diatas yang bangkainya pun belum sepenuhnya."
"Kenapa harus menjadi heran? Bahkan di beberapa keluarga, hal buruk sampai terjadi. Satu sama lain bisa saja saling menikam."
"Mau bagaimana lagi? Mereka terlalu buas menonjolkan tuntutan atas hak mereka."

Saya tidak bisa melanjutkan pembicaraan lagi. Terasa sesak untuk membuka mulut. Nafas tersengal hampir tersedak, beberapa liter darah langsung naik ke ubun-ubun. Wajah saya tidak berhenti memandang meja. Mengatur hidangan untuk segera memasuki mulut lagi.

"Harusnya kamu menjadi penengah disana."
"Hah? Anak bawang seperti saya? Ayolah, jangankan menjadi penengah, keberadaan saya adalah beban bagi mereka."
"Beban bagaimana?"
"Jika bisa dibandingkan dari segi materi, posisi saya sangat tidak berarti. Pengangguran di mata mereka berbicara, entah apa yang terjadi. Sikap saya keluar dan tidak ikut dalam permasalahan itu bukan karena saya pengecut. Tapi menjadi waras di antara kegilaan mereka. Selama ini saya di lihat diam karena mereka terlalu ribut."

"Apa orang tua kamu juga ikut di dalamnya?"
"Seharusnya kamu tidak perlu menanyakan hal yang sudah pasti."
"Saya kira tidak seperti itu."
"Ya namanya juga rumah tangga. Apalagi terbilang sebagai keluarga besar. Perbedaan pendapat pasti terjadi. Masalah kecil  pun saja bisa menjadi sangat besar. Apalagi Jika ada hari raya. Apa mereka tidak bisa berbicara dengan nada kekeluargaan saja."

"Mungkin itu yang mereka anggap sebagai kekeluargaan. Jika di bandingkan dengan suasana di rumah saya. Nampaknya seru juga jika melihat keakraban seperti di rumah kamu."
"Yang ada malah membosankan!"
"Hahaha.. Dengan sepupu? Tidak melakukan percakapan?"
"Orang tua mereka saja seperti itu, anaknya pasti membicarakan seputaran itu juga."
"Maksudmu?"
"Mereka membicarakan gaji, kendaraan, gaya hidup dan aaahhh, jabatan..."

Jika berhadapan dengan makanan, rasanya saya tidak perlu waktu sampai beberapa menit. Maksudnya, untuk sesuatu berjenis makanan, saya tidak akan segan-segan. 

"Mereka menanyakan tentang pekerjaan."
"Wajar kan?"
"Bukan pertanyaan wajar bagi saya. Tepatnya adalah kesalahan awal memulai komunikasi."
"Jadi menurut kamu?"
"Harusnya mereka tidak bisa seperti itu. Mereka tahu sendiri bahkan mencaci keputusan saya karena lebih memilih mendirikan usaha dan mengundurkan diri dari pekerjaan menjadi pegawai negeri sipil."
"Mungkin mereka mengira kamu sudah bangkrut."
"Keluarga saya selain bapak dan ibu, semuanya memilih menjadi PNS. Saya jadi mengerti kenapa mereka mudah putus asa, tidak menikmati proses. Kalau bangkrut tidak mungkin."
"Buktinya? Bukankah kamu sekarang sudah sepi pelanggan?"

Rokok mengepul, wajah mendongak tersembunyi di balik asap. Sekarung dua karung saya benamkan nafas. Entah, kenapa semua harus menilai seseorang dengan materi, materi dan materi! Tidak terkecuali dengan seorang wanita di hadapan saya. 

"Ayolah, usaha saya dalam bidang jasa. Jadi tidak mungkin akan mendapat hasil tetap seperti mereka. Saya menyukai dengan apa yang terjadi saat sekarang. Jika boleh dibandingkan dengan menjadi PNS dahulu, pekerjaan saya hanya duduk di kantor. Maksudnya, pisau akan tumpul jika tidak di asah bukan?"
"Jangan berbicara terlalu tinggi. Lihat keadaan kamu sekarang. Saya adalah orang yang kamu buat kalut."
"Hahaha.. Maaf, saya tidak pernah bermaksud seperti itu."
"Tidak ada salahnya jika menuruti kata mereka. Semenjak kamu mendirikan usaha, kamu hanya bisa menyusahkan diri sendiri dan saya!"
"Jadi kamu merasa keberatan?"
"Bukan seperti itu. Masalahnya adalah tidak ada perubahan sama sekali dari usahamu.

Tiba-tiba detak jantung saya berat. Ingin rasanya pergi dari hadapan wanita ini. Saya bukan orang yang suka di dikte. Beberapa gerak tubuh secara otomatis menunjukkan rasa tidak nyaman. Jika ada uang dalam dompet, saya memilih untuk makan sendirian.

"Tolong mengerti sedikit, usaha saya baru berumur beberapa tahun. Bukannya bagaimana, terlepas dari sedikitnya hasil. Jika di rekalkulasi, semestinya hal itu tidak bisa dibayar oleh siapapun!"
"Kenapa kamu sangat egois?"
"Bisa kita membicarakan topik lain? Sudah beberapa kali kita membahas tentang hal ini."

Dia menebar pandangan ke jalan. Raut wajahnya jelas menuntut sesuatu dari saya. Masih berat, terlalu berat, dia menggeleng beberapa kali.

"Kamu sendiri bagaimana? Tetap bekerja disana? Membuat usaha sendiri?"
"Bagaimana jika saya memilih keduanya?"
"Yakin bisa mengerjakan keduanya?"
"Jelas bisa. Saya perlu materi lebih banyak untuk menjalani hidup. Kamu sendiri? Masih tidak berfikir dengan materi?"
"Kebutuhan hidup saya tidak banyak, perhatikan, kebutuhan! Bukan keinginan. Jadi mengenai materi hanya menjadi sesuatu kesekian kalinya."
"Menabung untuk membangun keluarga? Masa tua? Keperluan mendadak? Apa kamu tidak akan menikah?"

"Kamu mau kita cepat menikah ya?"
"Kita?"
"Eh?"
"Aku akan menikah tapi tidak dengan kamu."
"Ya, ya, masalah turun temurun."
"Bukan masalah! Kewajiban."
"Entahlah."