Jagung Bakar

"Apa kalian sudah lihat? Dan berkali saya bilang. Salah satu tempat paling hingar saat liburan adalah pantai, tapi kalian tetap ngotot untuk datang kemari."
"Apa salahnya? Lagi pula mereka tidak mengganggu kita juga-kan?"
"Hei, ada apa? Kita sudah disini. Ayolah!"
"Sekarang begini, kamu punya ide untuk pilihan tempat yang sepi?"
"Kuburan mungkin?"
"Oh? Haruskah? Sudah ah, Ayo duduk saja. Kalian mau pesan jagung bakar?"
"Boleh lah."
"Ada yang mau pesan juga? Saya pesankan buat kalian semua ya?"
"Iya!"

Kami tidak harus meninggalkan pantai untuk mengikuti kehendak salah satu kawan dengan penyakit anti keramaian. Memang terlihat tidak adil, tapi rasanya mustahil harus berpindah tempat lagi. Karena beberapa kawan tidak bisa berlama-lama meninggalkan rumah.

"Jadi kapan rencananya?"
"Iya nih, Sudah lama kita tidak berkemah."
"Kalau kemah mendingan jangan di danau buyan lagi deh. Kabar terakhir dari kawan saya, sekarang tapak perkemahan di danau buyan sudah seperti hotel."
"Maksudnya? Mereka menyiapkan fasilitas terkini?"
"Pertama, mereka memasang jaringan internet nirkabel. Kemudian, mereka memarkir kendaraan roda empat tepat di sebelah tenda..."

"Sepertinya tidak jadi masalah bukan?"
"Masa? Bayangkan, kita tidak akan sempat mengobrol karena yang lain sudah sibuk dengan internet. Apalagi mobil dari anak muda kurun waktu sekarang sengaja di pasang audio canggih. Parahnya mereka hidupkan dengan sangat keras."
"Memang sih, padahal substansi berkemah sebenarnya selain untuk menikmati hari di luar keseharian kita, berbincang adalah kegiatan penting untuk bertukar informasi."
"Menggali keluh kesah, penat karena pekerjaan."
"Juga semakin mempererat rasa persaudaraan kita."

"Ini jagung bakar kalian, sudah bisa dimakan."
"Wow! Ini jagung kenapa bisa sebesar ini? Jika saya tahu dari sebelumnya, mungkin makan sore saya ganti dengan memakan jagung ini."
"Hahahaha, iya saya juga berpikiran hal yang sama lho."
"Jadi bagaimana dengan topik kemah kita?"
"Oh iya, ingat hari kemerdekaan negara kemarin? kita kan sempat mengadakan kemah. Jika kita bisa evaluasi, terlihat seakan kita kemarin terlalu mengedepankan rasa individu."

"Rasa individu bagaimana? Kan waktu itu saya tidak sempat ikut."
"Saat selesai memasang tenda, kita menggelar tikar untuk duduk bersama. Hampir semua mengeluarkan bahan makanan, dan fatalnya adalah salah satu dari kita menandai makanannya sendiri. Memang sih itu hak yang membeli, jika memang tidak boleh diminta kenapa mesti dicampur dengan makanan milik bersama? Sekalian saja makan sendiri dan jangan ikut kemah. Parahnya dia juga meminta makanan dari yang lain. Saya tidak mempermasalahkan hal itu, tapi kenapa sikap egois seperti itu harus ditunjukkan? Kemudian, saat tidur dia memakai selimut orang lain sampai yang empunya selimut harus kedinginan."
"Lho? Katanya berbagi? Kenapa selimut di permasalahkan?"

"Hei kawan, Ingat, yang kamu pakai adalah selimut orang lain. Apa kamu sudah meminta izin sama yang punya? Saat pulang, bahkan kamu tidak menunjukan itikad baik sedikit pun. Bahwasanya kita sudah sepakat tidak ada sarapan karena persediaan makanan sudah habis, jadi kita menggantinya dengan makan siang dan bersiap-siap untuk pulang. Tapi apa yang kamu lakukan? Entah dari mana kamu mendapatkan makanan, dengan rakus kamu makan sendiri."
"Sudahlah, itu kan sudah terjadi. Mendingan kita bahas yang lain saja."
"Ayolah, dimana letak kesalahan saya? Itu makanan kan punya saya sendiri? Perut saya lapar, ya saya makan. Kenapa banyak sekali ada aturan harus begini lah harus begitu lah?"
"Sudah dong, jangan ribut."
"Saya kan dari awal bilang, jika bisa saya evaluasi kemah kemarin. Memang sih tidak ada larangan dan aturan apapun untuk kemah. Tapi saya cuma heran kenapa ketika kita bersama, bahkan memutuskan untuk melakukan kegiatan bersama, ada saja orang yang menunjukan rasa ego!"
"Kan setiap orang punya karakteristik berbeda, jadi ketika kamu sudah dewasa, harusnya hal seperti tidak perlu lagi dibicarakan. Anggap saja jika kawanmu gagal dewasa."
"Saya cuma berbagi kekecewaan saya tentang kemah kemarin. Saya harap sih jika kita kemah selanjutnya, hal seperti itu tidak akan terulang lagi."

"Ini minum dulu, kasihan kamu habis makan jagung bakar ukuran besar belum sempat minum air."
"Pantas saja dia mengamuk. Hahaha"
"Memang rencana kemah selanjutnya kapan?"
"Kalau masih saja situasinya seperti yang kemarin, saya tidak ikut. Mendingan saya kemah dengan kawan yang memang sama-sama bisa saling menghargai."
"Jadi begitu? Ya sudah saya tidak ikut saja. Enggan saya, hanya menjadi beban kalian."
"Kamu lagi! Kita sudah sama-sama dewasa, apa salahnya belajar menghargai?"
"Iya sudah, kita sepakati saja kemah tanpa orang egois dan tidak mau belajar. Buat apa kita mempertahankan seseorang tanpa keinginan baik. Kita menerima semua orang untuk menjadi kawan, tapi jika kawan sendiri tidak mau mengerti kita, buat apa? Mungkin kamu lebih cocok bergaul dengan orang kaya atau orang yang memang tidak memperhatikan lingkungan sekitar."
"Jadi selama ini kalian menganggap saya benalu?"
"Lho baru sadar? Ayolah kawan, kamu bisa dewasa sedikit tidak?"
"Sudahlah, saya pulang saja."
"Silahkan, kami masih mau disini. Jarang-jarang kita bisa berkumpul dan berbicara seperti ini."

"Parah memang dia. Kapan coba bisa menjadi dewasa."
"Sudahlah, kita bahas rencana kemah saja yuk."
"Bagaimana kalau kita...."
"Tapi kasihan lho dia, kalian kenapa tega? Itu kawan kalian lho. Suatu saat kalian akan membutuhkan dia."
"Kawan? Memang definisi kawan menurut kamu seperti apa?"
"Iya bagaimana ya. Seseorang yang bisa saling melengkapi, saat susah dia ada, jika dia memang egois itu adalah kelemahannya, intinya sih saling mengerti satu sama lain.
"Kamu masih polos atau memang suci? Sudah beberapa tahun kita berteman dengan dia. Kehadirannya selalu menjadi beban. Sekarang saya bertanya, apa pernah dia membantu salah satu dari kalian?"
"Saya pernah meminjam uang dengan dia, tapi dia selalu memintanya tepat waktu. Berbeda ketika giliran dia meminjam uang kepada saya. Hahaha"
"Memang sih, tapi kan?..."
"Jangan-jangan kamu ada rasa sama dia ya? Hahaha..."
"Bukan seperti itu, kan dia sudah punya pacar. Lagi pula dia selalu hadir kok saat saya meminta tolong."
"Saya rasa sih, karena dia memang lagi butuh teman juga. Coba saat dia senang, pernah dia berbagi kesenangan dengan kita?"

"Sebentar, kesenangan seperti apa maksudmu?"
"Seorang teman, ketika melihat temannya susah dia akan membantu, melihat temannya senang dia akan membagi kesenangannya. Komunitas, mungkin kelompok terdiri dari beberapa orang dengan visi dan misi yang sama. Mudahnya adalah ketika kamu berada dalam kelompok misalnya komunitas pemakai sepeda untuk bekerja, tanpa pemberitahuan lebih lanjut, kamu dan mereka akan memakai sepeda sebagai kendaraan entah bekerja, berkumpul dan kemana pun kalian pergi. Jadi ketika dalam perjalanan teman kalian haus, kalian akan sepakat secara bersamaan untuk berhenti sejenak untuk menunggu."

"Iya saya mengerti, saya rasa masih ada kesempatan untuk merubah dia menjadi lebih dewasa."
"Jangan sampai kita merubah seseorang, ingat tidak ada satupun orang berhak merubah orang lain apalagi yang ingin dirubah adalah orang seperti dia. Orang dewasa sudah sama-sama mengerti tentang semestinya. Jika merubah anak kecil masih bisa, karena dia masih polos. Jika memang teman kamu sementung, beda halnya!"
"Aduh, kenapa saya merasa sedih jika ada orang apalagi teman pergi ketika dia berbeda dari kebersamaan."
"Sebenarnya sangat sederhana, kita sepakati dulu rencana kemah kita selanjutnya. Oke, saya mengalah, hubungi  saja dia dan ajak bergabung. Tenang saja, saya juga akan ikut. Tapi ketika dia memang tidak berubah sama sekali, mungkin dia tidak cocok menjadi kawan saya."