Inventivitas

"Jadi? Sampai kapan kita akan menunggu dia, de?"
"Pribadi seperti dia sudah pasti bisa dipahami."
"Selalu dan selalu..."
"Dan bagaimana pun bahwa dia adalah teman kita juga.
Sudah beberapa akhir ini kami bertiga selalu meluangkan waktu untuk sekedar berpumpun. Setidaknya saya tidak akan merasa kesepian seperti sebelumnya. Lagi pula, rumah kawan saya tidak akan pernah, ya, seperti "Hei, apakah mereka lupa memasang pintu di rumah ini?"

"Entah, mungkin dia sedang dalam perjalanan menuju kesini."
"Mungkin?"
"Iya, jelas seperti pesan tulis yang dia kirim."

Kami hanya bisa menunggu dengan berbagai macam gaya. Berjejak kaki melintas lantai, menggeletak tubuh kuasai tikar menatap lautan putih. Beribu detik telah kami telan, tidak, saya rasa sudah berjuta. Jika ada kata lain dengan angka yang pantas, saya yakin kebosanan kami akan sebanding.

"Dasar! Kenapa dia tidak pernah menghargai waktu. Lihat, bahkan untuk urusan skripsi saja dia tidak pernah serius."
"Mungkin saja dia lagi mempersiapkan kekhawatiranmu. Lalu, apa hubungannya dia telat datang kemari dengan skripsi?"
"Tidak, saya rasa, hmmm, aaahhh... Kamu enak de, sudah selesai kuliah. Saya dan dia menyusun proposal skripsi saja belum."
"Letak masalah untuk skripsi kalian dimana? Saya rasa menyusun skripsi masa sekarang sangat gampang, bukan? Apalagi untuk mendapatkan nilai besar sangat mudah di tempatmu."
"Nampaknya saya menginginkan tantangan untuk menyelesaikan tugas akhir ini."
"Sombong ya? Atau hanya alasan melindungi diri dari pengangguran bertitel?"
"Malas tepatnya de."

"Hahaha.. Saya kira alasanmu akan lebih mendalam tra."
"Pemikiran saya cukup simpel. Oh, tidak, bahkan sangat."
"Lantas bagaimana tentang sesuatu misalnya rencana karir? Entah, setelah tamat nanti."
"Rencana? Karir? Berkeluarga? Saya belum sempat memikirkan hal seperti itu. Jika pun nanti saya tidak mendapat pekerjaan, saya bisa meneruskan usaha keluarga."
"Kalau mau meneruskan usaha keluarga, kenapa harus buang waktu dan uang untuk kuliah?"

Dia memalingkan wajah, melihat tajam kearah cangkir berisi setengah kopi hitam. Hmm, iya, tidak setengah kosong. Tatapan matanya tajam memandang menjejak dinding rumahnya sendiri. Dua jemari sebelah kanan mengapit secuil batang dengan asap membumbung di ujung. Air muka tergambar berhembus asimilasi berat mengekor menonjolkan bermacam kerut.

"Ya, saya hanya ingin menjadi anak baik, tidak, itu karena sebuah paksaan. Kamu bisa bayangkan sendiri apa yang akan terjadi jika saat itu saya mengeluarkan kata bernada penolakan."
"Saya kurang yakin."
"Kalau hanya menimpa saya pribadi, tidak akan saya menyusahkan diri mengikuti rutinitas membosankan itu."
"Apakah akan berdampak kepada keluarga juga?"
"Masak kamu tidak mengerti juga de? Ayolah, kebiasaan membicarakan orang lain."
"Kenapa bisa? Apa  kamu, bahkan sampai keluargamu juga diatur oleh bahan obrolan mereka?"
"Bukan de! Demi menjaga nama baik keluarga. Membungkam mereka dengan gelar sarjana. Apa hal seperti ini tidak terjadi pada dirimu?"

"Apa saya terlihat seperti seorang ramah? Bagi saya mereka -tetangga- hanya pemberi semangat. Pun jika perkataan mereka buruk terhadap saya, kenapa harus menjadi terpengaruh?"
"Ada kalanya juga kita mampu membuat mereka untuk bisa lebih menghargai kita. Menjadi seorang sarjana, kemudian kembali ke desa. Sebuah rasa kebanggaan bukan hanya dinikmati keluarga saya saja, tapi masyarakat juga akan ikut merasakannya."
"Oh iya? Kemudian?"
"Akan menjadi seperti buah gerak hati, kian bermunculnya banyak para sarjana. Bukankah hal itu menunjukkan bahwa desa kami mampu melahirkan intelektual muda."
"Entahlah tra, saya belum memikirkan sampai sejauh itu. Karena selama ini, tidak, sampai saat ini juga, saya hanya bisa memahami bagaimana cara kita berkomunikasi dengan baik kepada mereka."

Tatapan matanya mulai serius. Mimik wajahnya tidak terlihat seperti akan tersenyum. Dia menyalakan sebatang lagi. Menatap heran kearah wajah saya. Dia mulai meletakkan beberapa bungkus, disamping dengan jarak beberapa sentimeter dia letakkan sebuah pemantik. 

"Anggap saja begini de, jika kamu melihat seseorang misalnya adalah mantan presiden kita. Bisa membuat pesawat. Apakah kamu bangga dengan prestasinya? Atau misalnya salah satu aktor laga tanah air mendapat penghargaan internasional, bukankah seharusnya kamu ikut bangga?"
"Bangga? Menurut kamu semudah itu? Menilai seseorang hanya dengan satu faktor saja? Lantas ketika saat mereka melakukan secuil kekeliruan, semua dari mereka akan buyar?"

Kerongkongan saya gatal. Endapan kopi menyeruak menutupi dasar. Udara gerah, peluh kebosanan menetes. Saya memandang jam dinding tua, ternyata beberapa puluh menit sudah berlalu. Komat kamit gerak bibir pada layar kaca tabung tidak mampu mempengaruhi rasa gelisah. Karena pada kenyataannya bahwa batu berbentuk bulat akan tersetai sabar air.

"Hei, Bukankah itu manusiawi?"
"Maka kamu tidak berbeda sedikit pun dengan anjing."
"Hah?"
"Jika kamu berjalan di kolom gang, memakai minyak wangi dengan aroma melati. Kemudian ada seekor anjing menggonggong kamu. Pada hari selanjutnya sampai beberapa hari kemudian kamu melewati gang itu dengan aroma yang sama. Anjing tersebut tidak akan menyalak lagi karena kamu dikenal sebagai tuan melati. Tapi suatu saat kamu tidak memakai aroma melati, yang tercium hanya bau keringat, tebak apa yang terjadi?"
"Iya. Saya akan mengatakan kepada anjing itu bahwa saya adalah sang tuan melati."
"Hebat ya, nampaknya sebelum itu keluar dari mulutmu, kamu akan dilarikan ke rumah sakit."
"Anjing bodoh itu namanya!"
"Hei, jangan menyadik diri sendiri"