Cylea Barbata Myers

Di warung itu, saya sering, berkunjung kesana dengan kakek. kalau kakek, hampir setiap hari, dengan pilihan waktu di tengah hari, guna istirahat dari kegiatan rutin bertani. Membeli serombotan, es gula atau es daluman.


Warung itu searah dengan jalur menuju rumah ketika akan pulang dari sekolah dasar. Jadi saat melihat kakek duduk disana, saya sengaja mampir untuk sekedar menemani dan memesan menu makan siang yang hampir sama dengan kakek. 

Berbeda dengan menu tambahan, jika kakek memesan kopi, saya hanya memesan permen. Maklum, saya saat seumur itu tidak suka akan rasa kopi. Warnanya hitam, rasanya pahit kelu dan hei, kenapa semua orang dewasa mampu menikmatinya? 

Coba bandingkan rasa dari secangkir kopi dengan segelas es gula dan es daluman. Rasa dari dua minuman ini masih masuk di akal. Rasa manis dari gula pasir yang dicairkan, warna merah dari pewarna makanan sebagai pemikat mata, dengan rasa gurih dari jeruk nipis. Daluman? Saya tidak yakin dengan minuman satu ini. Entahlah, saya harus mulai darimana untuk bisa menggambarkan rasanya. Haruskah saya memulainya dari kesegaran es batu? Manis manja dari lembutnya gula aren cair? Gurih riuh santan kental? Atau hijau bergelintin remasan daun daluman? Dan hitam pekat melantun cincau? Tolong, saya sudah tidak kuat lagi! Tolong...

Saat berada dirumah, saya jarang memakan makanan empat sehat lima sempurna, ya, seruan sosialisasi dari pemerintah pusat saat tahun itu. Bagaimana tidak, hampir semua orang dewasa di dalam rumah bekerja. Jadi untuk makan siang biasanya kakek akan membelikan menu yang sama dari warung itu. Kalau sempat, ibu memasak sesuatu untuk bekal ke sekolah. Beberapa makanan biasanya tersimpan di meja dapur sebagai makan siang. Nah, preferensi akan krisis makan siang enak di rumah, peraduan satu-satunya cuma di warung itu. Padahal masih banyak warung di sekitaran tempat tinggal saya, entah kenapa saya dan hampir seisi rumah nyaman dengan warung satu ini. Bahkan tetangga juga tidak jarang sampai berjam-jam lamanya duduk sekedar nongkrong di warung tersebut.

Jika diperhatikan dari segi fisik, kondisi warung ini sangat sederhana. Mungkin karena hampir semua menu yang ditawarkan sangat jauh dari macam produk pengandung zat pewarna kimia dan zat bahan pengawet kimia. Belumlah saya mengerti tentang corak zat kimia saat itu. Saya hanya menjadi teman kakek untuk mengurangi beban berat di kantongnya.

Bahkan salah satu permen yang menjadi pelipuran saya adalah produk rumah tangga. Iya, produksi pemilik warung sendiri. Bahannya dari gula aren, dibentuk menjadi persegi panjang dengan ukuran kira-kira 2 x 4 sentimeter. Berisi potongan kacang tanah. dahan daun kelapa dipakai untuk pegangan permen, menjadikannya persis es krim. Bahkan, untuk saat ini, saya masih ingat dengan rasa manisnya yang tidak terlalu tajam, jika dibandingkan permen buatan pabrik yang biasa teman-teman saya konsumsi. Jarang saya membeli permen buatan pabrik. Jika iya, saya biasa beli permen karet kunyah-kunyah bergelembung. Masalah gigi rusak jarang saya temui juga di antara teman penikmat sejati permen tersebut.

Hampir beberapa puluh tahun saya menjadi pelanggan di warung itu. Sampai akhirnya hingga duduk di sekolah menengah atas, saya harus pindah untuk tinggal di kota. Saat ada kesempatan pulang kampung, saya langsung mampir untuk berkangen ria. Ternyata permen itu masih menjadi penghias menu disana. Generasi dibawah saya nampaknya sudah jarang yang suka dengan permen kotak itu. Kalau dulu, jika sore hari saya kesana permen itu akan tersisa cuma lima bungkus bahkan habis dan menunggu untuk dibuatkan lagi. 

"Kapan pulang de?" sapa ibu wayan melihat saya duduk memesan menu yang sama saat masih kecil dulu. 
"tadi pagi mek yan, engken kabare? rame warunge mek?" Jawab saya bertubi sembari mengulum permen legenda. Rasanya masih sama, manisnya masih pas dengan rasa gurih kacang yang masih sama juga! 
"sekarang sudah sepi, sepertinya teman-temanmu sudah merantau semua". 
Saya memerhatikan keadaan sekitar, beberapa warung sudah tutup. Suasana jalan sangat sepi, hanya derai kesepian dari gesekan dahan mengiringi kicau burung.
"kapan kamu menikah? Lihat, si agus tanggun desa sudah memberi cucu". Saya tidak menjawab, hanya menikmati serombotan dengan menyeruput kopi hangat.