Bulan dan planet mars

Seperti mahasiswa pada umumnya, saya berjalan menuju tempat beradu dalam hawa kebanggaan, penuh keyakinan. Hal yang mendasar adalah beberapa kawan sepantar jarang mendapat kesempatan menikmati pendidikan tinggi.
Jika ada, hanya kawan kaya, manja, dengan memilih jurusan pendidikan pun harus dengan tuntunan orang tua. Iya, memang kebanyakan seperti itu. Saya perhatikan dalam kelas dengan jumlah kawan mencapai 40. Sebagian kecil saja memang memilih jurusan ini dengan sadar sendiri.


Boleh dikatakan bahwa tempat paling nyaman dalam kampus bagi saya adalah kantin. Kawan, berbagai penggal cerita, makanan. Seperti kasih ibu, kantin selalu memenuhi apapun keinginan saya. Saya tidak bisa membayangkan jika sebuah tempat dengan penuh berbagai karakter tanpa kantin. Apa jadinya?

Harapan? Sepertinya mereka tidak sedang bergurau. Ohh, tidak, saya memang sangat benci untuk sebuah topik pembicaraan seperti ini. Mereka berbicara tentang akan menjadi seseorang yang merubah sistem, meneruskan keinginan orang tua, sedangkan lainnya masih bingung akan kemana setelah ini.

"aah, menjalani hidup santai saja kawan, Tuhan sudah mengatur semua ini." Disambut beberapa riuh, "Mengalir seperti air saja, ikuti arus". Kawan lainnya menimpali. Saya hanya tertawa mendengar celotehan mereka. 

Saya yakin mereka tidak sangat serius dengan ocehan bodoh itu. Tidak demikian nampaknya dengan beberapa kawan pemilik visi hidup yang jelas. Saya sempat memastikan kembali bahwa tempat ini adalah kantin, akan berbeda cerita jika misalnya tempat sekarang adalah ruangan dosen mungkin.

"Bro, kamu juga ngejar pekerjaan menjadi PNS (Pegawai Negeri Santai)?" Tanya seorang kawan kepada saya. Reaksi saya hanya diam bertabur senyuman mencurigakan. Jujur, untuk pertanyaan seperti itu saya belum bisa memahami didalam diri.

"Bukankah kita masih berada di semester satu? Bagaimana jika saat semester selanjutnya saya jawab." Dengan nada santai beraroma rokok kretek, bau menjijikkan dari mulut kotor saya membuat mereka enggan berlama-lama dengan kami. Kenapa? Apa mereka tersinggung?

Seiring langkah mereka menuju ruang kelas, kami tepat mengikuti dengan suara cekikikan mengekor. Jam sudah menunjukan perkuliahan kedua akan dimulai. Duduk di kursi belakang? Iya, tempat paling nyaman untuk mendengarkan celoteh dosen dengan kualitas guru Sekolah Dasar. 

Alih-alih mencatat, kelopak mata saya saling beradu. Suara penuh intelek dosen saya anggap nina bobo. Aneh, hampir setiap mata kuliah saya terserang kebiasaan ini. Apakah ini sudah merambah kearah penyakit kejiwaan? Entah, kenapa saya menjadi teragak-agak, Jangan-jangan beberapa kawan pintar, menaruh sejenis obat tidur untuk saya dan kawan pelanggan kursi belakang. Karena seperti bulan dan planet mars, mereka yang duduk di depan sangat antusias dengan mengikuti semua materi. Sedangkan saya? Buku dan anteseden kaum pintar kursi depan hampir menyembul keluar dari tas besar mereka. Sedangkan saya? Hanya punya one stop service atau satu buku untuk semua materi. Alasan bahwa saya tidak sanggup membeli buku menjadi obat penenang untuk satu masalah ini.

Peringatan bahwa materi sudah selesai seakan menjadi angin segar bagi saya. Mata menjadi berbinar, jantung berdetak normal dan terpenting adalah saya bisa mengetem di kontrakan kawan. Membicarakan sesuatu, seperti lebih menuju kepada kedangkalan pikiran. Tugas rutin dari materi tadi kami kerjakan dengan sistem keroyokan tanpa senjata memadai, tidak layak guna.

Saya dengan beberapa kawan pemalas lebih mementingkan rasa persaudaraan sebagai pengikat jiwa. Jika dibandingkan dengan kaum pintar, Mereka memakai motor bahkan mobil ke kampus. Sarana penunjang mereka mahal, jika ditanya harga, mereka akan tidak acuh.
"kalian tidak akan pernah tau berapa harga tas ini, berapa harga komputer jinjing kami atau berapa uang jajan kami". Kami menanggapinya hanya dengan senyuman atau tertawa keras hingga seisi kantin akan menoleh dan ikut tertawa. Entah, tertawa mereka menghina atau menghibur kami yang jelas kami bisa tertawa tanpa beban atau tertawa karena terpaksa? Mungkin.

Tanpa sadar, intuisi saya mengaitkan fenomena kesenjangan sosial ini kepada mereka yang mendapatkan jabatan besar di sebuah pekerjaan, dengan mereka yang hanya menjadi pembuat kopi padahal status mereka sama-sama sarjana. Ini hukum alam atau hukum hutang budi atau hukum atas hukum sejenis terkait? Lagi, materi selanjutnya akan segera dimulai dan seterusnya akan seperti ini sampai toga menutupi kepala.