Angguk

"Permisi? Maaf, Bisa saya pinjam korek, mas?" Saya menoleh ke arah suara disamping tempat duduk saya. Sepertinya pria ini sedang menggunakan waktu istirahat. Nampak dia mengenakan baju lengan panjang. Kotor, penuh debu. Saya memperhatikan kakinya, masih tersisa beberapa percikan adukan beton menempel.

"Terima kasih." Saya mengambil korek yang dia kembalikan. Saya mencuri pandang, mencoba menebak pekerjaan pria ini. Rokok dia hisap dalam-dalam. Arah pandangannya selalu kebawah dan ke arah kiri. Kadang, sesekali menjebak saya saat mencuri pandang.

"Lagi santai ya mas? Usai olah raga?"
"Saya tidak yakin. Beberapa hari sekali saya memang berada disini untuk istirahat dari mengayuh sepeda." Dia memandang saya pekat, beberapa anggukan kepalanya semakin membuat saya heran. Asap terakhir dari rokok jenis kretek yang dia hisap, mengepul beradu dengan asap mi rebus.


"Mengayuh sepeda? Berarti bisa dikatakan mas memang sedang melakukan olah raga bukan?"
"Mungkin tepatnya karena saya tidak punya kendaraan bermotor."
"Anda lakukan setiap hari? Jadi untuk berangkat ke tempat kerja juga?"
"Ini juga bagian dari pekerjaan saya."
"Kerja dimana? Kok bersepeda bisa jadi bagian. Mas atlet sepeda?"
"Hahaha, jangan bercanda. Dengan potongan tubuh kering seperti ini?"

Dia memalingkan wajah ke arah mi rebus. Beberapa menit lalu tidak dia acuhkan. Memandang kembali ke arah saya dengan anggukan. "Mari mas, makan dulu. Bu, pesan lagi semangkuk untuk bli ini."
"Tidak usah repot, saya sudah makan. Silahkan mas."
"Yakin sudah kenyang?"
"Jangan khawatirkan saya, kondisi mas sendiri seharusnya memesan lebih dari semangkok." Dia terkekeh, dengan anggukan kepala untuk kesekian kalinya. Mi rebus dia buat tidak berdaya. Kuah kental dia seruput habis. Kerupuk lima bungkus hanya tersisa bungkus.



"Kenapa sendirian mas? Tidak mengajak rekan kerja untuk makan bersama?" Dia kaget, seketika menoleh saya. Tatapan heran terbayang di wajahnya.
"Saya tidak bersama istri tinggal disini. Jadi, tidak ada yang membuatkan bekal."
"Tempat kerja mas disitu?" Saya menunjuk ke arah bangunan besar dengan 3 lantai tanpa atap, tanpa tembok. Hanya tiang kokoh berdiri.

"Iya, disana, disebelah toko 24 jam modern. Kata bos saya bangunan itu bakalan jadi restoran cina."
"Sudah lama bekerja di Bali mas?"
"Saya di Bali sudah puluhan tahun. Hampir semua daerah pernah saya kunjungi untuk menjadi buruh bangunan. Maklum mas, cuma ini yang bisa saya lakukan."

Dia tersenyum dengan memandang kosong ke arah mangkok yang juga kosong. "Kalau bisa memilih, saya akan memilih sebagai pekerja kantoran. 
"Pernah pulang kampung?" 
"Setiap selesai membangun mas. Pekerjaan untuk bangunan itu sudah mulai dari 2 minggu lalu. Jadi saat bulan kemarin saya di kampung." Akan menjadi sangat tidak bermoral jika saya melanjutkan perbincangan ini. Saya tidak punya hak untuk menggali terlalu dalam. 

"Hanya rindu saja kami habiskan dengan berbincang. Anak saya sudah besar, tidak mau lagi saya peluk. Cuma istri saja yang bisa saya peluk dengan erat. Jauh dari keluarga rasanya sesak mas." Saya hanya diam. Sepertinya ini giliran saya untuk terus menyenggukan kepala.
"Selain daerah Bali, saya pernah pergi ke lampung. Saat itu umur saya 18 tahun. Tidak sekolah, karena keluarga saya bukan orang yang punya. Mencari kerja disana, akhirnya menjadi buruh bengkel motor. Tidur pun di bengkel. Lampung menjadi daerah pertama saya saat keluar Pulau Jawa. Jika di Pulau Jawa, hampir semua daerah sudah saya pijak. Di Bandung saya mendapatkan istri. Dia anak bos saya di warung makan padang. Nah, dari sana saya mencoba menjelajah Daerah Sumatra. Akhirnya istri melahirkan, saya langsung pindah ke daerah Bali."

"Kenapa tidak mencari kerja di daerah bapak sendiri?"
"Daerah saya sepi mas. Penghasilannya tidak seberapa disana. Memang sih keperluan sehari-hari lebih murah disana. Tapi tidak akan cukup untuk membiayai kuliah anak saya."
"Hah? Anak mas kuliah?" Saya tersentak hampir tidak percaya.

Dia diam sejenak. Tampak mengunyah kerupuk beras dengan sangat pelan. Raut senyum di wajah bergaris itu semakin menyungging naik. "Tidak perlu heran seperti itu. Anak saya bisa kuliah karena mendapatkan beasiswa. Dia juga bekerja di restoran cepat saji. Istri saya membuka warung di rumah. Jadi semua kebutuhan bisa terpenuhi termasuk biaya hidup disini. Cuma makan mi rebus setiap hari. Jika ada uang lebih saya membeli beras, kecap, minyak kelapa, garam dan bawang. Jarang saya makan nasi lengkap dengan lauk pauk. Saya yakin jika mas berada di posisi saya, pasti mas sudah merengek minta keadilan."

Saya memandang jalanan. Entah, saya hanya pasrah dengan keadaan seperti ini. Penasaran dan tanpa hak apapun menjadi beban otak untuk menimpali kesah.

"Sebentar, bukannya sekarang sudah saatnya mas harus kembali bekerja?"
"Kita masih menunggu bahan. Jika bahan belum datang biasanya saya pulang ke kontrakan untuk istirahat. Tapi hati-hati mas, masih muda jangan dipakai sembarangan itu badannya. Jangan seperti saya. Minum alkohol, makan makanan tidak jelas, parahnya adalah tidak punya masa depan cerah." Saya kembali menyenggukan kepala. Tidak ada terlintas sama sekali sebuah kalimat untuk menjadi jawaban.


"Kadang saya iri dengan mereka. Sesuatu yang orang lain buang bisa mendatangkan hasil buat hidup mereka. Pernah saya berfikir untuk mencari peluang yang sama. Tapi hati saya berkata bahwa Indonesia masih luas untuk sekedar mencari uang. Yang paling memberatkan saya adalah berkumpul dengan keluarga saya. Dan Indonesia bahkan luar negeri pun tidak menyediakan kebahagiaan itu nampaknya."