Sekat

Siang hari ini, tepatnya tengah hari. Cuaca sangat indah, tampak awan berdendang riang menantang baskara. Cairan asam menderai mandikan tubuh berkilau. Otot kardia bergemuruh seperdua melebihi kecepatan normal, melihat bahari tongkat konduktor tepat memonyongkan corong disebelah telinga kanan.


Saya sedikit menjauh dari nyaring bahana, menggelegar berdentum. Telinga menguing hingga lutut pun mengering tak berdaya. Saya lanjutkan saja mengabadikan peristiwa mencucurkan kidung hati beramai-ramai di jalanan.

Kami berjalan berarak, berpuluh-puluh satu kesepahaman. Sisi pinggir badan jalan kami lalui tak gontai menuju tempat pemberhentian pertama. Ditengah badan jalan sebuah perempatan jalan besar kami berkumpul berteriak, membagikan secarik kertas bertuliskan peringatan dan ajakan bahwa yang kami perjuangkan saat ini sangat mendesak untuk segera ditindaklanjuti.

"Pikirkan kembali! Para penguasa sudah menelanjangi kita! Jangan pernah mau dibodohi, kawan!" Teriakan sang orator terbawa angin kering. Bergandengan mencelah atom memeluk polusi. membuat suasana semakin panas. 

Perasaan hanyut semakin membuncah. Menyelak tabir bertahta murad. Sececah kelesah menatap tegap, mereka mendempet namun kelesah tiada duduk. Berdiri meranggung, menyesaki  diantara. Saya tidak melihat sesuatu hal lain saat ini. Hanya kelesah menggiring murad. Menjauh dari nyaman tahta berhias emas.

Perjuangan menggulingkan kokoh sebuah era beberapa puluh tahun kemarin menjadi cambukan sadis penguasa dengan sikap represif aparat yang tidak segan-segan menembak mati kawan dengan senjata api. Hei! Ini masyarakatmu bukan musuh dalam imajinasi perang sempitmu. Mendeklarasikan diri menjadi negara hukum, kasus dalam peristiwa itu masih mengendap di batu nisan. Tahta berhias emas mungkin lebih mahal.

Mereka memandangi kami. Bisikan mereka terdengar jelas menghampiri telinga. Barisan kami masih utuh, tekad kami menuntun keras kaki menghentak. Antrian kendaraan di belakang memanjang. Petugas berseragam gagah di seberang jalan memandang kami seakan rombongan penjahat berjalan menuju rumah tahanan.

Kami sadar mereka terganggu karena beberapa puluh menit terjebak dalam kemacetan. Kami tidak bermaksud mengganggu mereka, hanya seperti ini cara terakhir kami. Jika tidak, suara dan pendapat kami tidak akan pernah didengar oleh para petinggi. Sangat ada norma dan tata susila disepakati masyarakat dalam hal menyampaikan pendapat. Tapi semua etika sopan santun tersebut rasanya tidak begitu mengena.

Tubuh kami berkarut setibanya di istana. Tiada senyum tersisa lagi. Garang dengan raungan membuta menelusuk di teras gedung dengan pagar beringas berseragam. Suara orator semakin memekik, menantang lantang seiring barikade pengaman mengeryitkan alis. "Bapak di sofa empuk, mari turun kesini. Temui kami, mari bicarakan lagi!"

Tempo hari mereka rela duduk di lantai kotor, Masuk pasar berantakan, bersama warga membersihkan selokan mungkin got.
entah, saat ini untuk menemui kami dirasa enggan. Atau sepertinya memang kami tidak mengerti kondisi mereka. Bermalam - malam membuat, memilah tatanan untuk diterapkan bersama.

Jarang dari mereka mempunyai usia di bawah 30 tahun. Beberapa masalah fisik akan mudah hinggap. Tertekan, Lemas dan capai karena kurang istirahat. Belum lagi dalam hal pesakitan elit memuncak. Menjadi sangat manusiawi jika mereka memilih luar negeri. Berlibur, istirahat.

Wajar bila uang gaji dan tunjangan terasa kurang. Dipersulit gaya hidup. Mereka buncit, terlelap dalam rayuan mewah. Sementara kami hanya bisa merengek, meminta bahkan lebih buruk dari pengemis tanpa berbuat, tanpa solusi. Atau inilah solusinya? Maksudnya mereka adalah sebenarnya pemberi solusi.

"Kami disini tanpa senjata pak! Tolong turun dan temui kami! Kami hanya ingin sebuah jawaban dan perubahan!". Bukan, mereka bukan pemberi solusi jika mereka pun masih bingung sama seperti kami. Pastilah ada beberapa kelompok mengangkang dibalik semua keputusan bodoh mereka. Ketakutan kami adalah perjuangan saat ini hanya menjadi hiasan setumpuk kertas dengan bermacam berita. Tanpa perubahan, tanpa musyawarah mufakat. Hanya sekat.