Batang

"Berapa harga lampu depan di sepada kamu, jung? Tumben saya melihat model seperti ini."
"Mereka satu paket. Lampu depan, keranjang dan boncengan belakang. Kenapa? kamu berminat? Saya bisa memberimu harga pantas untuk ini."

"Hahaha.. Cuma bertanya saja. Semua mengenai sepeda ini saya suka. Seakan hanya untuk pada zamannya, tapi mereka menggunakan untuk zaman sekarang."
"Tidak apa - apa, lihat dulu dengan teliti. Siapa tahu kamu akan berubah pikiran. Membuka harga lainnya yang lebih pantas."
"Hei? Kenapa tidak sekalian dipasang sesuatu bertuliskan dijual!"
"Sepertinya susah. Jika kamu memaksa, kita bisa melakukan bisnis dengan pelan - pelan."
"Sudahlah, saya tidak berminat dengan tawaran konyol ini."
"Jangan begitu de, memang kalau tidak sedang menawar sepeda baru saya, ada keperluan apa? Tiba - tiba begini setelah beberapa lama tidak bertemu."

"Hahahaha... Saya hanya ingin bercakap - cakap saja. Sudah berapa lamanya kita tidak bersua."
"Ya, itu dan rambutmu sudah semakin panjang saja de."
"Dengan tato barumu juga jung."
"Dan kita sepertinya memang bukan termasuk orang yang beruntung dengan hidup. Hahaha"
"Aaahhh, kata itu lagi... Ada kopi hitam? Mari buat sejuk cuaca panas sore ini dengan obrolan layaknya debu."
"Kita nikmati dengan sebatang tangkai kebahagiaan ini juga."
"Cuma satu gandar?"
"Ini barang baru. Berbeda dengan sebelumnya. Cobalah, kamu akan merasakan dimana letak perbedaan mereka!"
"Mari, mari..."

Kami bukan penggiat, lebih tepat dikatakan sebagai penikmat. Batang kenikmatan itu, biasanya kami nikmati jika memang diperlukan. Tidak seperti batang berkomposisi tembakau dan cengkeh. Sesuatu ini sangat lembut, seksi, pun mengeluarkan aroma semacam tidak bisa dinikmati. Dengan kata lain, mereka akan menyentuh sisi liar dalam diri.

"Bagaimana?"
"Memang sangat berbeda. Sepertinya saya tidak akan bisa mengayuh untuk kembali pulang."
"Santai saja, bila perlu kita bermalam di toko ini sampai sudah merasa bisa mengayuh."
"Hahaha... Dimana kamu dapat barang seperti ini, jung?"
"Pemberian kawan. Namun demikian, permasalahan sebenarnya ada pada saat penukaran."
"Iya?"
"Karena memang cara mengolah, ukuran cincangan,  umur bahan utama dengan beberapa campuran saus rahasia."
"Saya kurang mengerti tentang hal itu. Hanya bisa menikmati saja. Tanpa ada rahasia." 

Setengah batang sudah kami nikmati bergantian. Mereka tidak akan keluar, hanya memenuhi ruangan. Pengatur suhu memenjarakan kami. Teriakan, tawa, bualan menggema berdengung.

"Hitler, iya, hitler itu hebat atau hanya beberapa pion saja?"
"Hah? Hitler? Hal ini akan sama dengan sebuah pertanyaan seperti Steven Paul itu hebat atau para personel? Seperti juga, kamu yang hebat atau pegawaimu?"
"Enigmatis?"
"Persis, tapi di beberapa kasus hal ini berbeda sama sekali."
"Jadi, Menurut kamu?"
"Jika hebat dalam bidang seperti mempengaruhi orang, bisa saya katakan dia memang hebat."
"Entah Hitler pun Steven?"
"Iya jung. Jika dalam bidangnya, mereka hanya hebat dalam beberapa hal."
"Wow? Detail ya."
"Susah saya untuk mencampur semua jawaban dengan satu kata misalnya hebat atau tolol. Karena manusia tidak bisa di nilai dengan angka apalagi huruf!"

"Berarti tidak ada orang hebat dan tolol dalam dunia ini?"
"Kamu mau dikatakan kalau kamu tolol?"
"Tidak juga. Bagaimana dengan persaingan? Misalnya piala dunia? Beberapa kompetisi?"
"Nah, ini berbeda. Sangat berbeda! Juara itu adalah hasil akhir pencapaian seseorang dalam bidang yang mereka tekuni. Mereka melakukan itu hanya untuk sebuah pengakuan, bisa karena kesamaan hobi, ajang temu persahabatan. Saya anggap kamu salah jika hanya melihat itu sebagai pencari jawaban mana hebat dan mana tolol."
"Bisa jadi seperti itu. Tapi jangan terlalu tajam. Santai saja. Mari buat hal ini lebih ringan dari atom."
"Hahahaha... Maaf, saya terbawa suasana. Hanya sangat tidak bisa menerima jika seseorang apalagi kamu sebagai teman saya, ternyata suka menilai seseorang sebegitu sangat picik. Lebih baik kita membicarakan hal yang berguna. Misalnya sebuah informasi? Inti sari? Atau ada ide murni dari imajinasi? Mari berbagi."

"Tunggu sebentar, saya mau ke toilet."
"Ya, nikmati waktumu, Saya masih disini."

Belum habis juga batang ini. Beberapa botol minuman pengiring tergeletak kosong. Kepala semakin berat, mata memerah, bahkan untuk menggeser posisi gelas terasa tidak mampu. Beberapa bayangan memenuhi ingatan. Bertumpuk jelas dengan imajinasi. Saya tidak bisa lagi melihat sebuah lukisan dengan gambar jelas. Mereka berubah, seakan bergerak mendekat. Terdengar suara pintu terbuka. Saya tidak berani menoleh, takut leher menjadi patah.

"Ada apa? Oh tidak, apa kamu sudah meninggi?"
"Kamu kencing atau buang air besar? Puluhan menit sudah kita buang sia-sia."
"Sepertinya hanya beberapa menit saja. Saya sekalian mencari beberapa pengiring."
"Benarkah?"
"Hahaha... Sepertinya kita sudah sangat tinggi. Ayo, silahkan nikmati lagi beberapa tambahan ini."
"Hei? Ada apa dengan makanan ini? Kenapa mereka tidak bersahabat?"