Aduan

"Hei, apa ada perkembangan? Atau sesuatu, hasil bidikanmu mungkin?"
"Cukup mengesankan. Beberapa berbeda dari tahun ke tahun."

"Hasil dengan rekayasa?"
"Tidak, tidak pernah berurusan dengan hal semacam itu. Lebih mengarah kepada pribadi. saya sering mengalaminya sendiri. Persis dirasa seperti sebuah peningkatan."
"Beberapa peningkatan, hah?"
"Semacam itu. Masih dalam proses juga. Ternyata hal ini kemudian sangat memberi sebuah kenyamanan untuk dinikmati sendiri."
"Wow, itu terdengar sangat egois sekali. Bukankah semua orang berhak menikmati?."
"Apakah saya seburuk itu?."
"Menurut kamu sendiri?"

Saya menerawang, menatap silau sekitaran. Tidak begitu, ini lebih seperti memandang lampu di langit-langit kamar saat mata susah terpejam.

"Apa? Minuman dingin? Kopi? Oke, saya tahu itu."
"Tidak percuma punya kawan seperti bli, mengerti akan jadwal minuman untuk berbicara lebih jauh."
"Masih suka rokok kretek de? Saya akan mengambilkan untukmu."
"Ya, terima kasih bli. Huh, cuaca hari ini terkesan akan membakar semua yang nampak hidup."
"Simpan itu, karena kamu satu-satunya orang bodoh mengayuh sepeda dibawah kekehan matahari."
"Sepertinya tidak setiap hari bli. Kadang hari saya menggunakan kendaraan bermotor."
"Lihat! masih berkilah? Hampir setiap kamu mampir kesini dan hanya sepeda kaleng itu selalu kamu pergunakan."
"Ayolah, kaki juga seperti otak. Jika tidak dipakai akan terasa seperti parasit saja."


"Saya perhatikan, kamu tidak pernah mengikuti lomba atau semacamnya? Kamu takut mereka memihak salah satu peserta?"
"Saya tidak terlalu suka sesuatu seperti kompetisi."
"Kenapa? Sangat berperan untuk mengasah diri ke arah lebih baik bukan?"
"Jika memang ingin belajar, lakukan saja dengan baik. Kenapa harus menggunakan kambing untuk sebuah alasan? Lantas, misalnya menjadi pemenang?"

Kawan saya terdiam. Sepertinya masih sibuk dengan beberapa pelanggan. Toko ini bisa tergolong toko kecil modern. Entah, dia selalu berlaku curang tanpa membayar pajak. 

"Setelah menjadi pemenang ya? Hei, bagaimana dengan pameran? Jarang saya lihat ada pameran foto. Apa karena biaya mahal? Bukankah media siar sekarang sudah banyak beredar?"
"Apa pameran harus dilakukan melalui kompetisi? Maksudnya, bagaimana mereka menentukan barometer terhadap sesuatu bersifat relatif?"

Seketika dia terdiam. Membuang pandang ke jalanan. Saya masih memandang tajam, menanti jawaban atas apa yang dia mulai. Sangat tidak adil rasanya diperlakukan seperti ini.

"Silahkan de, kopinya diminum. Sudah, jangan dengarkan bualan bli kamu. Dia memang orangnya sok tahu."
"Terima kasih mbok. Tidak apa-apa, ini hanya obrolan orang-orang sok tahu saja."
"Mbok tinggal ke dalam ya. Masih banyak pekerjaan."
"Iya mbok, silahkan. Kapan-kapan saya bantu."
"Kenapa harus kapan-kapan? Sekarang saja."
"Tidak, terima kasih mbok."
"Dasar, kamu sama saja seperti dia. Huh."

Bli Ketut menempelkan jari telunjuk ke bibirnya sambil tersenyum menatap sembari memukul lembut pantat istrinya yang berlalu. Kopi hangat dengan pisang goreng menemani kami. Hmmm, aroma ini, selalu membantu aliran darah menuju otak.

"Lalu, kamu sudah pernah ikut pameran?"
"Sama sekali belum bli."
"Hah?"
"Selain tidak ada undangan, saya malu memperlihatkan hasil saya."
"Kamu ini belum apa-apa sudah merasa diri menjadi artis. Bagaimana kamu bisa berbicara seperti tadi jika belum pernah merasakan satupun proses?."
"Kalau keinginan pasti selalu ada. Tapi, saya rasa tidak perlu. Kepentingan saya bukan disana bli."

"Kepentingan? Maksudmu?"
"Apa tujuan sebuah karya harus dikomentari? Lebih baik jika dinikmati kan?"
"Kamu anti sosial? Kenapa harus mencela mereka?"
"Mungkin berbeda. Saya tidak suka belajar jika hasilnya untuk disidangkan, dinilai, seakan kerja keras selama proses karya hanya untuk memuaskan mereka."
"Hahahaha, egois?"
"Apa bedanya? Sama-sama egois bukan? "
"Sebentar, minum kopi dulu. Hembuskan juga aroma rokok untuk mengharumkan suasana."

"Bli senang karya seni?"
"Sepertinya hal itu berlaku untuk semua orang bukan Menjalani hidup tanpa hiburan sangat memuakkan. Saya suka mendengarkan gamelan, melihat tarian, kadang memperhatikan komposisi foto jika ada undangan pernikahan. Kamu bisa membuat seperti itu?"
"Oh foto pre-wedding?"
"Iya, foto prewangan. Saya suka memperhatikannya. Kadang juga terlihat sangat dibuat-buat. Menghilangkan jerawat, memutihkan kulit, terlihat sangat tidak manusiawi beberapa hasil mereka."
"Foto pre-wedding! Bukan prewangan! Mistis sangat bli ini. Dulu saya sempat mengambil pekerjaan seperti itu..."
"Dan sekarang?"
"Apa saya terlihat seperti orang sibuk?"