Kematian itu…

Perhatian! Tulisan ini mengandung kata dengan makna sangat dalam. Pastikan pemikiran anda sudah dewasa. Terima kasih.





Kematian itu ketika hembus nafas terhenti… karena jantung berhenti berdetak… karena saraf menjadi lumpuh dan seluruh sel mati. Tidak bergerak lagi.. terbujur kaku dengan suhu tubuh yang sama dengan suhu lingkungan. Membusuk… ketika mikroorganisme mulai menggerogoti setiap bagian tubuh. Tak ketinggalan berbagai serangga yang kemudian menitipkan telurnya.. telur menjadi belatung.. belatung kembali menjadi serangga. Atau sekumpulan serangga yang bersantap ria.. makan.. makan.. hingga kenyang dan kemudian pergi. Atau sekumpulan serangga pula yang memotong sedikit demi sedikit bagian tubuh kemudian membawanya pulang ke sarang. Diserahkan ke bayi-bayi serangga atau sang ratu untuk dinikmati… mungkin…

Kematian itu ketika semua menjadi sepi… tidak ada lagi suara-suara… tidak ada cahaya… tidak ada kegelapan… semuanya tidak ada. Bahkan tak ada kata-kata yang mampu mengungkap. Semuanya entah bagaimana… hanya tentang yang mati, bukan menyoal siapa yang menyaksikan kematian itu, bukan soal siapa yang mendengar kabar itu, bukan soal pendapat-pendapat yang konyol dengan pengaitan-pengaitan berbagai latar belakang, peristiwa, cara, presepsi, dan menimbulkan obrolan-obrolan yang menemani saat senggang bersama rekan atau keluarga. Bisa jadi suasana berduka… senang.. atau bahkan biasa saja…

Kematian itu… setidaknya ada yang tidak biasa antara kau yang menamakan hidup dengan yang kau anggap mati itu. Kau mulai berpikir tentang hal termudah untuk menjelaskannya. Entah kau berusaha mengerti keadaan itu atau kau mencari apa yang terjadi dan menjadi mengerti. Kemudian mulai timbul imajinasi, bayangan-bayangan bila kau yang terbujur kaku itu atau yang tubuhnya hancur, hangus, tak lagi utuh, bahkan hilang ditelan ketidaktahuan mengapa dia begitu. Kemudian kau merasa sesak, sedih, menangis, sakit… dan… yak.. kau larut dalam perasaan yang kau sebut duka mendalam. Atau kau melakukan hal lain, seperti merasa lega. Setidaknya dia tidak berlama-lama hidup yang kau lihat dia menderita. Hingga kau berpikir bahwa kematian adalah hal yang lebih baik, setidaknya menurut dirimu atau bahkan menurutnya pula. Dia meminta dan kau memberi. Atau karena dia itu menyusahkanmu. Menghantui hari-harimu dengan ancaman yang kau anggap menyakiti, membuatmu benci, hingga kau mendendam. Dia tidak menginginkannya, tapi kau atau orang lain memberinya. Lalu kau merassa itu pantas baginya, kau tenang, gembira, dan larut dalam euforia…? Entahlah… itu semua hanya persepsimu saja. Bahkan mungkin tidak ada apa-apa. Tidak terjadi apapun dalam dirimu.. tidak ada perasaan.. biasa saja menurutmu. Seperti hari-hari yang telah berlalu sebelumnyalah. Hingga kematian itu menurutmu wajar saja. Kau tahu dan kau… ya… begitu saja.

Kematian itu mungkin sebuah misteri… atau sebuah jawaban mengapa ada kehidupan. Kematian mungkin sebuah akhir, tapi juga permulaan.. Permulaan dari sebuah akhir, akhir dari sebuah permulaan… mungkin… Dan semuanya hanya tentang yang mati bagi yang mati dan tentang yang hidup bagi yang hidup. Dugaan-dugaan, usaha-usaha pembuktian, dan tujuan-tujuan mungkin mendatangkan kepuasan bagi yang merasa dirugikan atau kehilangan. Semuanya sah saja bagi yang memiliki motif-motif. Apakah untuk sebuah kepentingan berupa penyelamatan, penghentian, atau hanya iseng saja. 

Ya begitulah… banyak pendapatlah intinya. Ada yang mengatakan bahwa kematian itu tidak ada. Ada yang mengatakan bahwa kematian hanya berlaku untuk materi. Ada yang… banyaklah pokoknya. Sekali lagi itu sah saja bagi yang punya motif dan berusaha menjelaskannya. Setelah merasa mendapat jawaban, ya dianggap selesai. Jadi apakah yang mati membutuhkan semua persepsi itu? Apakah yang mati membutuhkan apa yang kau pikirkan dan yang kau lakukan? Entahlah… ketika kau berusaha menggali berbagai pengetahuan tentang kematian, itu hanya untuk keperluan yang hidup. Ya kan? Mungkin saja kau berkata tidak… tapi bagiku itu sah saja.  Karena kau juga punya persepsi…

Yang jelas itu terjadi. Ya… kematian itu sudah, sedang, dan akan terjadi.. bagi siapapun, setidaknya bagi yang hidup dan untuk saat ini. Suatu saat apakah kematian itu ada atau tidak, itu hanyalah tentang makhluk-makhluk yang berpersepsi saat itu. Apakah keabadian itu ada? Mengerti mati saja belum, bagaimana tahu, mengerti, bahkan menjelaskan keabadian? Semua kembali ke rasa kepuasan. Apa yang ingin dialami melalui indera-indera. Apa yang ingin diceritakan kepada dirimu atau orang lain. Kau berusaha membahasakannya dengan bahasa hidupmu… TUNGGUUU…!!! Membahasakan kematian dengan bahasa kehidupan? Hemmmmm….


Penulis:
Surpa Adi Sastra