Hitam

"Hmm... Kopi hitam memang nikmat. Selain kecap, sesuatu berwarna hitam dengan rasa nikmat ya kopi."
"Hahaha, ada-ada saja kamu. Bagaimana? Semua aman bukan? Kira-kira berapa tahun ya kita tidak mengobrol seperti ini?"
"Seperti ini? Apa maksudmu? Kamu kira aku pria apaan?"
Kami nampaknya tidak akan pernah tumbuh menjadi pria dewasa. Umur, fisik kami selalu mengikuti aliran waktu. Rasa kami kekal, jiwa kami bebas, tanpa ikatan membelenggu.
"Apa anakmu sehat? Lantas, Istrimu?"
"Sebentar, aku ingat-ingat dulu de. Sudah tiga tahun lalu saya tidak tinggal dengan istri."
"Oh? Apa istrimu bekerja di luar kota?"

"Tidak juga, aku rasa sekarang dia sedang membuat makan malam."
"Apakah anakmu tinggal dengan istrimu?"
"Iya, si kecil lebih memilih bersama dengan mereka." 
"Mereka?"
"Iya, Istriku dan suaminya. 
"Kamu bercanda?" Dia tersenyum hampa, memandang hamparan bintang. Sesekali melihat kendaraan yang lewat. "Iya, ternyata saya lebih senang membujang dan punya pacar. Kamu bagaimana? Sudah menikah de?"
"Lebih senang membujang dan punya pacar."
"Dasar beo!" Kami tertawa, tidak nampak raut kecewa dari wajah kawan saya. Entah, tapi rokok dia hisap dalam-dalam.

"Kamu mau pesan apa de? Sudah beberapa puluh menit kita disini tanpa memesan apapun."
"Oh, Menu andalah di cafe ini. Kopi dengan cream juga gula. Berhias biji kopi, dihancurkan tapi tidak halus. Saat menenggak kopi, kamu bisa mengunyah biji itu. Efeknya luar biasa! Mampu bertanggang seharian." Dia mengernyit, memandang remeh. "Melek karena efek kopi apa stres tidak ada yang kamu ajak bersama di tempat tidur? Hahaha."
"Kalau masalah itu kan tidak ada berpengaruh. Mungkin belum."
"Dasar berlagak suci kamu jadi orang de. Oiya, masih berhubungan dengan pacar kamu?"
"Yang mana? Aku kan banyak punya pacar."
"Bodoh! Tampang jelek seperti ini masih berlagak terus ya?"
"Percaya diri namanya."
"Hahaha, terserah kamu saja."

Pesanan kami datang. Secangkir kopi, sepiring kecil kentang goreng, beberapa potong roti bakar, beberapa botol bir dingin. "Tentang pekerjaan, masih melanjutkan usaha bapak?"
"Iya, di bidang konsultan, drafter."
"Kontraktor?"
"Sejenis itu de, cuma lebih sederhana. Kantorku di Jalan Teuku Umar. Kalau kamu tidak sibuk dengan kegilaan, mampir saja ke kantor. Itu, Irwan sempat kerja bareng saya. Cuma tiga bulan saja, langsung saya pecat dia."

"Lho, kenapa? Sama teman seperjuangan dahulu kok sikapmu seperti itu?"
"Tepatnya, tuduhan kamu berlaku untuk irwan bukan ke saya. Nih ya, saya suruh dia membuat tampilan bangunan tiga dimensi. Saya perhatikan terus selama tiga bulan, yang dia kerjakan cuma melototin monitor komputer. Seperti kebiasaannya dia di sekolah dulu."
"Penyakit ayan? Kambuh lagi?"
"Bukan penyakit ayan. Penyakit anomali lingkungan sekitar nampaknya. Saya tanya di bulan akhir kejadian pemecatan itu, dia cuma bilang saya masih berusaha. Dia kira kerja itu sama seperti kursus apa?" Kentang goreng dengan colekan saus cabai dilahapnya. Bir dingin sudah beberapa botol habis, kopi saya tidak begitu tersentuh. Bir dingin sepertinya lebih memikat.

"Saat kamu pecat, dia tidak menuntut pesangon?"
"Tidak, cuma gaji saja. Rugi saya memberi dia pesangon. Konsumen yang menjadi tanggung jawabnya meminta ganti rugi sama saya. Kacau memang orang itu. Semestinya dia bisa membedakan antara pekerjaan dan kawan." Belum habis sebatang, masih di pertengahan, rokok di tangan dia padamkan, mengambil lagi rokok baru. Jelas terlihat kesal menggebu dari matanya.

"Kamu sempat bertemu kawan sekelas lainnya?"
"Beberapa orang sempat, sisanya mungkin sudah mengganti nomor."
"Bulan lalu saya sempat ke sulawesi. Pulang dari sana saya harus melegalisir ijazah untuk mendaftar kuliah di kampus baru. Karena malas berhadapan langsung dengan kepala sekolah, saya minta tolong sama made yang sekarang menjadi tenaga pengajar di sekolah. Saya bertemu dia memakai celana pendek, belum mandi, berkeringat lebat karena mengayuh sepeda! ..." Dia tertawa renyah, memotong pembicaraan saya. Tidak bisa dihentikan, meraung ke seluruh cafe.

"Pasti langsung mati berdiri made melihat tampang hancur, rambut memanjang tidak karuan."
"Saya tunggu dia di bale bengong depan kantor ukur tanah. Mungkin kebetulan atau memang sengaja menunggu saya. Dia terlihat duduk disana. Saya sengaja tidak menyapa. Cuek, sedangkan made terus melihat saya kaget keheranan."
"Mau mati?"
"Nampaknya sih. Tapi beberapa menit dia memalingkan wajah. Mungkin menghirup udara segar supaya tidak muntah. Saya heran kenapa dia tidak mengenali saya."
"Yang membuat saya heran itu kenapa kamu bertindak sebodoh itu."
"Dia menyapa saya, permisi pak, ada keperluan apa disini. Saya diam, tidak melihat wajahnya. Tatapan sengaja saya luruskan dengan tampang tanpa dosa."
"Kejam kamu de, harusnya made sudah membacok kamu." Sekali lagi cafe riuh, tidak nampak pelanggan lain terganggu. Hanya melihat kami sekejap dengan senyum.

"Kamu mau pesan sesuatu lagi de?"
"Nanti saja. Ini masih banyak makanan di meja belum kita habiskan."
"Terus bagaimana kelanjutannya tadi?"
"Akhirnya saya yang menyerah. Tidak kuat menahan tawa lama-lama. Dia cuma cengengesan tanpa sebab. Pindah gila mungkin."
"Untung kamu tidak digigit. Giginya kan panjang, tebal dan tajam. Jika sampai itu gigi hinggap di kepalamu, niscaya tidak akan pernah lepas."
"Kamu pernah digigit?"
"Sering! Masa lupa saat sekolah dulu?" Beberapa botol bir dingin datang lagi. Tidak, kami tidak bermaksud muntah. Cuma untuk ukuran kami, hanya berakhir di saluran kemih.

"Sepertinya sudah larut, tapi kawan yang lain belum nampak."
"Mungkin mereka balas dendam karena saat reuni kemarin kita tidak datang."
"Kita? Bukannya kamu datang de?"
"Saya sedang berada di Sulawesi. Jadi tidak bisa menghadiri acara mereka. Bagaimana dengan Kamu? Ada halangan juga?
"Tidak, cuma malas saja. Bosan dengan kegilaan mereka." 

"Selain aku, apa masih ada kawan yang belum menikah?"
"Hampir semua termasuk aku."
"Kamu? Bukannya sudah menikah?"
"Sama yang baru kan belum."
"Dasar... Oiya, beli sepeda saja tes. Kan bisa jalan-jalan kita bareng."
"Mendingan naik mobil de! Tidak perlu capai dan tentunya nyaman."
"Tidak kasihan sama kakimu? Lihat, kurus kecil seperti tidak pernah dipakai."
"Kaki saya dipakai saat keadaan mendesak saja."
"Misalnya?"
"Untuk menendang kamu tentunya!"