Kecap manis

"Kamu tahu kalau air mata hanya di gunakan oleh anak gadis saat mereka bersedih?" Pandangan mata saya buram. Air mata masih enggan berhenti sepanjang perjalanan. Selalu, saat seperti ini hanya warung mek yan menjadi tempat esensial bagi kakek untuk menghapus muram durja yang masih lekat pada saya. Entah, kaki saya terasa ringan pertanda setuju.
"Haruskah setiap hari wajahmu dihiasi air mata?" Saya memalingkan wajah, Tidak menjawab. "Bahkan mereka keluar lewat lubang hidungmu."
"Mbok tahu? Sebuah mainan, plastik berbentuk benda sudah membuatnya menjadi gila!"
"Masalah mainan lagi? Masih belum puas dengan banyaknya mainan yang kamu punya de?" Air mata masih menetes, tangan sepertinya sudah pegal mengusap mata. Saya masih enggan untuk bersuara.

"Saya dan gede pesan menu seperti biasa."
"Ada apa dengan makanan di rumah?"
"Di dapur hanya ada tudung saji dan taplak meja. Sepertinya barang itu tidak sehat jika dimakan?" Mek yan memandangi saya, mencoba mengajak tertawa bersama. 

"Hei lihat, air matamu nampaknya sudah kering. Apa setiap hari kamu harus menangis?" Saya menundukkan kepala, masih belum mau bersuara. Secangkir susu coklat hangat saya reguk pelan. "Dia tadi di tinggal ke pasar sama kakaknya. Padahal dia ingin ikut. Tapi, sepertinya itu sengaja. Ibunya memang melarang, takut jika dia ingin membeli mainan baru lagi." Kelopak mata mek yan hampir beradu, menatap saya tajam. "Dasar, memang anak cengeng."

"Bapaknya belum pulang dari Lombok?"
"Tadi pagi dia pulang sebentar, melanjutkan perjalanan lagi ke Surabaya membawa kelapa. Cuma mampir sebentar. Mungkin hanya ingin melihat keadaan rumah."
"Tidak merasa berkarut bimbang?"
"Mau bagaimana lagi, Mengelola sawah mungkin bukan pilihan tepat untuknya. Barangkali gengsi atau memang senang melancong, berada dibalik kemudi."
"Semoga dia selalu selamat. Kemarin saat menonton televisi, banyak diberitakan kendaraan pribadi dengan kendaraan sejenis truk berantuk. Entah, tapi tiba-tiba saya teringat akan ketut." Mata mek yan menatap jauh. Terlihat jelas rasa kasih khawatir.

"Ya jangan terlalu dipikirkan. Kalau memang menjadi sebuah pilihan, kita hanya bisa mendoakan saja. Tolong kerupuk itu bawa kesini mbok. Eh, ini kerupuk beli dimana? Tumben saya lihat." Kakek dengan seksama memperhatikan makanan ringan itu. Sambutan bernada tumben tampak jelas, sama seperti ketika saya mendapatkan sebuah mainan baru.

"Iya, tadi pagi sempat ditawari oleh seseorang dengan tumpangan penuh kerupuk kesini."
"Dengan bonus kaleng?"
"Iya, kaleng tempat kerupuk tidak akan pernah kosong. Setiap 2 hari dia akan mengisinya dengan kerupuk baru."

Saya dan kakek menikmati serombotan pesanan kami."Aduh, kenapa kamu jorok de? Ini pakai lap saja. Tidak pantas kalau baju dipakai membersihkan kotoran bekas luapan emosi." Mek yan memberi saya lap nampaknya masih baru. "Bukannya ini masih baru mek? Saya sungkan."
"Bicara apa kamu?" Mek yan membantu membersihkan wajah kumal saya.

"Kenapa saya tidak melihat botol kecap?"
"Sebentar, saya masih membuka yang baru. Kenapa semua orang disini sepertinya suka sekali dengan kecap. Bagaimana? Neneknya gede sehat? Semua di rumah sehat?"
"Tidak ada yang kurang. Cuma, i luh masih dalam proses berobat. Gara-gara hampir setiap hari membeli jajan sembarangan di sekolah."

"Jajanan untuk anak jaman sekarang banyak memakai bahan pabrik. Pengawet, penyedap, pewarna. Kenapa masih dibiarkan beredar? Sangat meresahkan. Cucu saya, tidak akan saya biarkan membeli makanan seperti itu. Tapi anak kecil tetap anak kecil, selalu pintar mencari celah." Kakek menoleh saya dengan senyum keriput. Mencoba mengatakan bahwa perkataan mek yan adalah informasi penting untuk saya.

"Sempat berbincang dengan ketut saat dia mampir ke rumah?"
"Dia cuma berbicara dengan istrinya. Saya hanya bercakap-cakap dengan konco yang dia ajak. Katanya ketut sempat mengalami masalah serius di Madura." Mek yan langsung menoleh kaget, menghentikan mengulek rujak buah pesanan saya. "Ketut? Ada sesuatu hal yang menimpa dia?"

"Hahaha, tidak seperti bayanganmu mbok. Penuturan dari made (konco), ada anak kecil menyeberang jalan sembarangan; Ketut mendadak berhenti tepat di depannya. Jarak truk dengan anak kecil sekitar 1 meter. Dia memang jatuh, mungkin karena kaget. Iya, cuma jatuh saja.
"Lantas?" Mek yan masih bergeming kaku. Tidak seperti kegelisahan, dalam, saya tidak mengerti. Seperti ada yang mengganjal.

"Entah, ketut memilih menyelesaikan semua di pos polisi terdekat. Mereka, ketut dan made patungan untuk membayar ganti rugi. Masuk bui juga menjadi ganjaran. Mbok tahu? Made berkata kalau bui sudah menjadi rumah singgah bagi supir seperti mereka." Kakek membuang pandangan, hembusan nafas tidak beraturan, seperti tergesa-gesa.

"Sebenarnya sudah dari dulu saya suruh ketut berhenti menjadi supir truk. Tetap, dia kukuh dengan pemikiran sendiri, keras kepala." Mek yan melanjutkan kegiatannya. Diam, hanya matanya nampak memerah berkaca-kaca. Sesekali nafas panjang keluar memekarkan hidungnya.

"Kamu tidak kangen bapak de?" Saya mengulurkan tangan menyambut sepiring rujak buah. Bibir saya bungkam, enggan menjawab pertanyaan melankolis seperti itu. "Dia cuma kangen dengan oleh-oleh dari bapaknya saja. Hanya mainan memenuhi pikirannya setiap hari" Kakek mengusap gemas rambut saya. Dia tahu bagaimana bapak memperlakukan saya.

"Kamu tidak boleh seperti itu de, kasihan bapak kamu. Bekerja keras, pulang pergi, Jawa sampai Lombok dia pijak hanya untuk membelikan kamu mainan."
"Apa kamu mendengarkan perkataan mek yan? Setiap hari kerjamu hanya bermain, menangis saja. Sesekali coba belajar, bantu ibu dan bapak." Anggukan pelan, nafas memburu hasil dari rujak buah pedas membuat mereka tertawa. Mereka memahami semua tentang saya. Iya, masih anak kecil.

"Sekarang ketut bawa muatan apa?"
"Cuma membawa rumput laut dan kopra."
"Kopra? Apa sekarang di Surabaya sudah tidak ada pohon kelapa lagi?
"Bos dari ketut memang punya pabrik di Surabaya. Beberapa dari kelapa lokal disana, beberapa memang di datangkan dari lombok."
"Oh, saya kira tidak demikian." Mek yan masih menyimpan beberapa ragu. Saya perkirakan, hampir sekitar beberapa bulan lamanya mek yan tidak pernah melihat bapak duduk disini.

"Memang uangnya banyak, tapi dia akan semakin susah untuk mengenal perkembangan anak-anak. Beberapa komentar miring masyarakat terhadap pekerjaan supir terutama untuk jenis truk sangat menusuk. Pembuat macet, sampah badan jalan, ugal-ugalan, Terakhir yang saya dengar adalah tukang tabrak. Mbok tahu? Dibawah tempat duduk truk adalah mesin. Bayangkan, truk tidak tersedia pendingin! Bisa dipastikan seberapa suhu dalam kemudi? Kemudian supir seperti ketut harus membawa barang tepat waktu ke pulau jawa. Terlambat beberapa jam, barang akan busuk di jalanan. Serba salah bukan? Jika ngebut, masyarakat merasa resah di jalanan." Mek yan dan kakek kembali menatap kosong, jauh menerawang. Saya tidak tahu harus bersikap seperti apa saat sekarang. Mereka nampaknya sudah memuncak.