Jalanan

"Hei, besok kamu jadi ikut aksi turun ke jalan de? Tidak takut ditangkap polisi?" Pertanyaan dari teman saya seakan mencerca, menjilati telinga hingga berdengung. Tanpa memberi saya kesempatan untuk menjawab. 

"Kenapa kamu harus ikut acara tidak jelas seperti itu? Lebih enak tidur di rumah bukan?" Saya hanya melihat sejajar ke depan dengan pandangan kosong sambil menghisap rokok kuat-kuat. Pelajaran mata kuliah hari ini bebas. Dosen tidak bisa hadir tanpa alasan, tanpa kabar. Kami menunggu untuk mata kuliah selanjutnya dengan menghabiskan waktu duduk di kantin kampus. 

Saya mengarahkan pandangan tepat ke bola mata mereka. Pupil saya mengecil, tatapan kosong masih saya perlihatkan.  Entah, mereka seperti anak kecil. Polos, haruskah saya menjawabnya? Namun, mereka terlihat sangat serius menanti jawaban dari saya. 

"Apa? Kalian seperti wanita. Bertanya tanpa ampun." Saya menjawab seadanya tanpa melihat mereka lagi. "Cuma itu sesuatu yang keluar dari mulut kamu? Ayolah, kami menunggu sesuatu seperti goncangan." Merasa kecewa, mereka terlihat seperti sepasang pelahap. Nasi campur pesanan menjadi pelampiasan. Bisu dalam rintihan, sendok dan garpu gagah mengangkang. Saya terkekeh melihat mereka dengan muka masam.

Berjam-jam saya memandangi monitor komputer jinjing. Malam ini saya habiskan di salah satu cafe penyedia layanan internet nirkabel langganan saya. Memperkosa mesin pencari untuk mendapatkan beberapa data sehubungan aksi turun ke jalan besok. 

"Oh tidak! Apa matamu menempel di monitor itu?" Jantung saya hampir copot, tubuh tersentak. Saya rasa yang hinggap di pundak adalah jari tangan manusia atau? Entah, saya menoleh pelan, dan ya itu memang jari tangan manusia! Kawan wanita menyodorkan segelas kopi pekat hangat. 

"Istirahat dulu, nanti bisa di lanjutkan lagi." Saya mengangguk pelan. Posisi kami sekarang berhadapan. Matanya sayu menatap jelas ke arah saya. Saya memalingkan muka, saya tahu betul dia prihatin. Kopi hangat saya cumbui, asap membayangi.

"Bagaimana? Terasa lebih segar bukan?" Senyum bibir tipis itu lagi. Saya tidak bisa memalingkan wajah untuk hal satu ini. "Saya rasa kamu mungkin mendapat penyakit gangguan perkembangan pada masa anak-anak. Berakibat tidak dapat berkomunikasi dan tidak dapat mengekspresikan perasaan, keinginan sehingga perilaku hubungan kamu dengan orang lain terganggu." Dia tertawa puas. Matanya memandang langit. Mencari hal indah di atas sana.

"Hmm, semua bilik penuh?" Tanya saya sambil melihat ke dalam cafe. Untuk pemakai internet nirkabel, pelanggan termasuk saya biasanya lebih memanfaatkan beranda. "Seperti yang bisa kamu lihat de, hanya beberapa orang saja. Mereka sudah berjam-jam lamanya disana sama seperti kamu." Kami terkekeh dalam dekapan dingin angin malam.

Kami berkumpul di sekretariat bersama untuk penyatuan pikiran aksi hari ini. Koordinator lapangan nampak membagikan penanda guna pakai agar provokator dari luar barisan kami mudah dikenali. Kami bergerombol menuju tempat aksi. Gedung mewah dalam balutan barisan pengaman super sudah menanti kedatangan rombongan kami. 

Orator memulai aksinya, berbagai poster dengan tulisan propaganda kami angkat tinggi-tinggi. Nampak perwakilan dari pejabat bersangkutan sudah hadir di tengah-tengah kami untuk melakukan musyawarah. Diplomasi, tata bahasa seperti retorika tingkat tinggi menggema. Sahut menyahut, gemuruh teriakan. kami memanaskan suasana selaras senyum hangat siang.

"Bagaimana hasilnya de?" Tanya teman saya dikantin kampus. "Jangan-jangan kamu tidak jadi ikut ya?" Seseorang lain menyambung, memasang muka penasaran. "Saya datang kok. Aksi kemarin lumayan lancar tanpa ada insiden."

"Memangnya kalau kamu dan yang lain turun ke jalan, keputusan mereka akan berubah?" Tanya mereka lagi tambah semangat untuk menyudutkan saya. "Ya tidak segampang itu kan?"

"Sepertinya akan lebih tepat jika namanya menjadi pembuang waktu mungkin?" Mereka cekikikan sambil menunggu reaksi saya. "Buang waktu apanya? Setidaknya kan kita sudah memberi tahu bahwa keputusan mereka adalah salah." 

Mereka nampak saling memandang untuk melanjutkan pertanyaan jebakan lagi. Saya hanya bisa tersenyum melihat tingkah lucu mereka. "Lantas, apa kamu tahu yang sebenarnya terjadi?" Saya mengeluarkan setumpuk kertas ukuran A4 dari dalam tas. Sekitar 20 halaman, berisi tentang sesuatu yang berhubungan dengan aksi kemarin. "Nih baca ini biar kalian juga berfikir."

"Oke, kita bisa baca tumpukan ini nanti. Namun, saya yakin bahwa tidak akan perubahan apapun dari mereka. Lihat saja kenyataan selama ini, aksi turun ke jalan di beberapa daerah hanya sedikit yang efektif untuk mendapat perubahan." 

Menghela nafas panjang sudah menjadi aktifitas rutin saat nongkrong dengan mereka. Mencoba mencari jawaban agar mereka mengerti. "Begini tuan penggerutu, sepertinya hal ini tergantung cara pandang kalian. Jika kalian peduli dengan sebuah proses, kalian akan mengatakan hal ini perjuangan. Berbeda saat kalian hanya melihat hasil. Dan, kemudian hasil turun ke jalan menjadi buruk, kalian akan menyebutnya omong kosong." 

Mereka bengong melihat saya serius. "Apa kamu dalam keadaan baik-baik saja hari ini?" Asap rokok saya buang, saya mendongak memandang langit-langit kantin. Kopi nampak mulai mendingin. Kami hanya tertawa tanpa beban. Saya yakin mereka juga peduli.