Angin petang

Saya berhenti di warung tua langganan depan lapangan umum. Sepeda saya parkir bersandar pada pohon. Angin melambai pelan, menyentuh dasar kulit. Peluh enggan keluar, malu tersapu. "Mas ada lowongan kerja tidak?" 
Saya dan mek tut tersentak melihat sosok pemuda sekitar 35 tahun dengan kulit sawo matang tiba-tiba berada disamping saya. Pandangan mata sayu haru. Pakaian kemeja putih lusuh. Celana panjang hitam memudar. Nampaknya itu sepatu. Iya, sepatu kulit hitam pucat tanpa kaos kaki. "Wah, bagaimana ya? Saya kurang tahu mengenai hal itu."

"Mas bukan orang asli sini ya?" Saya membenarkan posisi duduk untuk membuat suasana enak memulai obrolan.  "Saya memang orang Bali, tapi kurang mengikuti tentang lowongan pekerjaan. "Kembali saya menyeruput kopi kental dengan mulut penuh asap rokok. "Mas aslinya darimana?"

"Saya dari Lombok Timur, dekat dengan Gunung Rinjani. Di pelosok desa tepatnya mas."
"Oh? Saya sangka anda dari Jawa, memanggil saya dengan kata mas soalnya. Tinggal di Bali sudah berapa lama?" Dia menyuruk, mengambil sesuatu dari dalam tas.

"Saya sudah satu tahun bertempat di Bali. Pertama saya kerja di sebuah cafe internet sekitaran wilayah jalan Teuku Umar. Rugi mas kerja disitu, kadang di tengah malam ada saja pelanggan yang tiba-tiba kabur tanpa bayar." Dia terdiam, menyelipkan sebatang rokok kretek di antara bibir kering, membakarnya. 

"Mau tidak mau saya terpaksa ganti rugi. Kalau tidak punya uang, dipotong dari gaji." Dia menatap kosong mata saya. Asap rokok kretek menutupi separuh wajahnya. "Sudah hampir 3 bulan saya belum bayar uang kontrakan. Beberapa barang menjadi jaminan hanya untuk makan."

Mek tut dengan tatapan iba hanya terdiam. Sepertinya tidak tega untuk turut serta. Tumben, biasanya dia akan masuk begitu saja tanpa ijin. "Sudah setengah hari saya berkeliling, mencoba mencari kesempatan kerja. Apa di Bali memang semua seperti itu ya? Rata-rata mereka meminta pendidikan terakhir minimal SMA atau sederajat."

Saya memalingkan pandangan, menatap jalan mengikuti gerak beberapa kendaraan lalu lalang. "Oh, Sekarang sudah makan mas? Tidak apa-apa, kebetulan saya ada uang lebih untuk sekedar beli mie rebus. Mau mas? Mek tut, tolong mie rebus dua."
"Maaf mas, bukan bermaksud, tapi benar-benar sungkan." Saya hanya tersenyum, rasanya air mata akan tumpah jika saya mengeluarkan suara. Tidak, ternyata mek yan sudah kelepasan. Membuat mie dengan mata berkaca.

"Setiap pagi saya sarapan dengan mie rebus. Untuk makan siang dan makan malam, saya mencari bahan makanan di tempat sampah sepulang dari mencari kerja. Lumayan mas, beberapa makanan seperti roti, buah, sayur, banyak di buang. Padahal kondisinya masih bagus. Kaleng dan botol plastik juga saya kumpulkan."

"Mie kalian sudah siap, tambahkan kecap untuk menambah rasa." Saya menatap mek tut. Matanya masih sedikit memerah. Suaranya parau menahan sesuatu. Dia segera berpaling melayani pelanggan lain. Tidak mau berlama-lama dengan kami. "Ayo mas dimakan, tidak enak kalau dingin. Ini kerupuk kalau mau. Tapi saya tidak suka makan berteman kerupuk. Lebih senang dijadikan kudapan."

"Terima kasih mas, saya benar-benar tidak tahu malu."
"Santai saja. Cuma mie rebus, tidak seberapa. Oh? Apa jatah mas biasanya 2 bungkus mungkin?"
"Sudah 2 bungkus mie de disetiap mangkok kalian. Kalian tidak memesan minum?"
"Mau minum apa mas?" Dia menoleh kaget, tanpa menjawab. Masih asik melahap.

"Teh hangat manis jahe dua gelas mek tut. Lantas, rencana mas mau cari kerja dimana lagi? Kalau punya kemahiran khusus sepertinya akan lebih gampang." Dia menatap mangkok kosong. Mie rebus sudah di perut tanpa sisa. Tangan kirinya memainkan sebatang rokok; tangan kanannya hendak mengambil teh hangat. Kepalanya mulai menggeleng pelan.

"Pernah bekerja sebelumnya di Lombok?"
"Buruh tani mas. Lahan bukan milik saya, punya orang. Bekerja hanya saat musim panen saja. Saya bukan orang punya mas di kampung." Dia terhenti untuk menghisap rokok dalam-dalam. Matanya memerah, air mata tertahan. Mendongak mengambil nafas dalam.

"Rumah hanya sepetak. Bocor, kumuh dan sepertinya bukan tempat yang layak untuk manusia. Seperti kandang. Ibu sudah pergi menikah lagi. Bapak meninggal saat saya masih umur enam tahun."

Teh hangat kami minum berbarengan. Rokok pun tidak luput dari api korek kayu. Di sekitaran lapangan Renon sudah sangat sepi. Hanya beberapa lapak saja masih digelar. "Sepertinya ini sudah jam 7 malam mas. Kalau di daerah mas, di jam seperti ini masih ramai?"
"Jangankan jam tujuh mas, jam 6 petang saja sudah tidak ada orang lagi dijalan. Kecuali pemuda duduk berkelompok. Kira-kira kalau di Bali, orang dapat pekerjaan tanpa ijazah dimana ya mas?"

"Di Bali ya? Saya juga bingung mas dimana mencari yang seperti itu. Kalau tidak menjadi buruh bangunan, hei, mas bisa mengemudikan kendaraan roda empat?
"Supir? Saya tidak bisa mas. Jadi buruh serabutan saja mas tidak apa-apa asal kerja."
"Coba mas besok ke daerah jalan Gatot Subroto. Lumayan jauh dari sini. Kalau ada uang, cobalah sewa ojek. Di daerah itu, banyak toko bangunan, bengkel, gedung pertokoan. Pokoknya daerah itu sangat cocok dengan kriteria mas. Ongkos kontrakan disana juga lumayan murah. Kalau beruntung, bisa dapat tangsi."

"Mencari pekerjaan tanpa ijazah sangat susah bukan Lihat, ini pakaian satu-satunya yang saya miliki sekarang. Hampir setiap hari saya tidak dapat tidur nyenyak. Pernah kemarin saya menjadi pengemis, tapi malah ditangkap pihak berwenang. Ingin kembali ke kampung sepertinya tidak akan mungkin."

"Saya tidak menjanjikan bahwa nantinya di daerah gatsu mas mendapat pekerjaan. Setidaknya, mas coba mencari peluang disana."
"Masih belum dapat dipastikan ya?"
"Bukan, saya tidak bermaksud. Tidak ada salahnya mencoba bukan?"

Angin petang berganti malam, mencelah pori-pori. Bibir pemuda ini mulai mengering. Rokok tidak pernah padam, Asap menenangkan risau gulana. "Berjalan kaki dari sini berapa jam mas?"
"Kalau saya memakai sepeda dari sini, dengan kecepatan 20km/jam kira-kira 20 menit."
"Berarti saya harus berangkat jalan kaki mulai dari jam 6 pagi ya?"
"Mereka mulai melakukan aktivitas jam sembilan pagi mas."
"Lurus saja ke arah utara?"
"Iya, intinya lurus ke aras utara. Kalau merasa hilang arah, sebaiknya bertanya dengan seseorang dijalan. Banyak jalan di daerah Denpasar."
"Banyak jalan tapi sedikit peluang untuk orang seperti saya."
"Jangan seperti itu mas. Daripada menjadi orang yang masih minta-minta seperti saya. Maksudnya, masih minta beberapa materi sama orang tua."

"Mas tidak kerja?" Saya diam, merasa keteter dengan pertanyaan mendasar seperti ini. Susah untuk menjelaskan kepada seseorang yang tidak mengerti tentang saya. "Saya? Bagaimana ya. Saya bingung, apa yang harus saya katakan. Cuma, ada sebuah impian, masih  saya bangun dengan seadanya."
"Hmm, mimpi ya. Sepertinya saya sudah lupa bagaimana caranya bermimpi."