Tanah Kelahiran

Sebagai pengingat masa lama, saya hanya mampu berada dalam bayangan saat pindah dari desa kelahiran menuju kota besar. Perbedaan mendasar begitu kelihatan. Seseorang, bangunan, tanah lapang, sawah dan jalan besar. Penuh hiruk pikuk tanpa tanda pengenal. Beberapa bahkan lingkungan sekitar seakan hanya menatap apa yang ingin mereka lakukan. Beberapa tahun saya pindah hingga saat tulisan ini tercetus pun masih di kota ini. Bukannya ingin menambah beban dari sesaknya tanah kota, tapi hidup di tanah kelahiran sedikit membuat saya tidak betah. 


Menambah materi dengan bekerja di tanah kelahiran sangat tidak memungkinkan. Bagaimana tidak, daerah dengan PAD buruk membuat beberapa penduduk termasuk saya harus pindah dengan alasan gagah "bertahan hidup"! Konsekuensinya adalah kampung menjadi mati, penerus desa mati kekam, hanya angin kering membilas peluh untuk upah seadanya.

Di kota ini, saya bertemu dengan teman dari berbagai daerah di Indonesia. Tujuan mereka dengan saya hampir sama. Ada juga teman yang beridealis "bahwa kelak saat saya lulus kuliah, akan membangun tanah kelahiran seperti kota ini". Dia menatap saya dengan mata berbinar. Hampir beberapa teman berkumandang seperti dia. "Tanah kelahiran saya harus berubah. Saya akan bangun beberapa jalan besar, gedung bertingkat juga vila agar kalian betah berada disitu" ujar lainnya sependapat. Tapi kenapa hanya saya yang berbeda. Apa karena saya sudah terlalu nyaman dengan keadaan disini hingga lupa daerah asal?

Pertanyaan semacam itu selalu menggema pelan, menusuk, mencari celah dalam pikiran, menjadi beban dalam keseharian untuk bertindak. Jadi, apakah oleh-oleh yang dapat kamu berikan untuk tanahmu saat tertawa terbahak di tanah orang?!

"Kamu tidak pulang kampung de?
"Tidak, mungkin tidak dalam waktu ini."
"Kenapa? Apa tidak ingin membangun desa?"
"Saya tidak punya sawah". Pandangan saya sudah sedikit buram. Pengaruh minuman mengandung alkohol yang kami tenggak menampar keras. "Buat apa sawah? Beberapa milik keluarga saya sudah dijual"
"Kenapa dijual? Bukannya kamu dibiayai kuliah dengan hasil dari sawah?"
"Saya akan membuat beberapa usaha dengan sisa lahan de. Saya sendiri juga tidak suka bekerja di sawah. Selain kotor, percuma saya sarjana jika hanya untuk mengolah sawah. Bukan begitu de?"

Akhirnya setelah beberapa tahun saya tidak kembali desa, kaget! Nampak sawah sudah berubah menjadi jalan. Gedung tinggi menjalar dan rumah Tuhan mengelibat dengan anggun menantang langit hendak menggapaiNya. Apa ini? Jangan-jangan ada yang mendengar pembicaraan saya dengan teman saat itu. Inikah oleh-oleh dari kota besar untuk daerah saya? Nampak hanya beberapa lahan sawah masih diinjak tanaman padi mengering tanpa aliran air. Terpotong tanah hitam bergaris putih mengeras. Beberapa dipenuhi tanaman jagung, cabai, bunga dan umbi. Parahnya beberapa lahan hanya belukar dengan tanah retaknya. Ooh gusti, dimana ini? Apakah masih di tanah saya dahulu?

Bukan! Apakah tanah menginginkan perubahan seperti ini? Sayangnya dia hanya diam dengan kendaraan berlalu lalang menjilati tubuh keringnya. Menatap telanjang hamparan sinar matahari tanpa senyuman.