Serombotan

"Jadi bagaimana? Dia menjadi tersangka atau tidak?" Kakek bertanya kepada tetangga yang duduk di antara kami. Saat cuaca panas memanggil untuk bersantai di warung mek yan. "Dia memang menjadi tersangka. Beberapa bukti menunjukkan bahwa dia mendapat sejumlah rupiah. Hal itu sangat mempermudah pengadilan menjatuhkan vonis."

"Hukum di negara demokrasi seperti Indonesia memang harus seperti itu. Jika tidak, kata keadilan di mata masyarakat hanya menjadi semacam obat penenang layaknya narkoba."
"Tidak seperti itu juga bli. Dia sahabat saya, bahkan tetangga bli juga. Setidaknya kita harus tetap membela."

"Apa kamu sudah gila dek? Lihat, Jika kamu menganggap dia tidak melakukan kesalahan. Bukti apa yang kamu punya untuk menentang penegak hukum? Seberapapun kejam politik di Indonesia, sangat susah di jaman seperti sekarang ketika harus membuat seseorang seakan sengaja agar di bui. Kecuali, memang benar-benar bersalah." Saya dan kakek menunduk. Serombotan pesanan kami sudah sedia. Pak Kadek saya lihat juga menunduk, memandang kosong gelas kopi hitam pesanannya.

"Kamu sudah diberi uang berapa rupiah sama si nyoman? Saya jadi penasaran, kenapa kamu mau membela dia mati-matian begini?" Kami seketika saling pandang, mencoba mencari sayup-sayup suara seperti bisikan. Ternyata mek yan ikut menyimak perbincangan. Mek yan bengong melihat tingkah kami. Beberapa menit dalam kesunyian masing-masing di pecahkan oleh suara serak wanita setengah baya.

"Jangan-jangan kamu juga mendapatkan uang dari i nyoman ya?" Kakek memandang tajam pak kadek. Mempertegas pertanyaan lalu dari mek yan.
"Aduh bli ini. Mbok juga, kalau tidak mengerti permasalahan jangan ikut bicara."
"Saya juga mengikuti perjalanan politik nyoman, juga kamu Kadek. Saya sudah memandang kamu sebagai anak sendiri. Ketakutan saya adalah kamu salah memilih sahabat."

"Politik saat ini kejam mek yan. Kita bisa bermusuhan dengan teman karena berbeda pendapat. Selain itu, bli juga harus tahu bahwa saat kita berbeda pendapat dengan petinggi partai di pusat berarti kita sudah dianggap sebagai pengkhianat. Coba lihat saya, tidak pernah sekalipun membuat onar, kinerja saya sebagai anggota baik, menjadi abdi untuk negara dan partai juga. Tapi kenapa saya didepak secara tidak hormat? Apa salah saat saya mencoba menjadi seseorang pembela teman?"

Mereka bertiga sangat memasang wajah serius. Beberapa kerutan mulai tampak memamerkan diri pada wajah kakek. "Bingung juga saya kenapa hal seperti itu harus terjadi. Mungkin bagi partai kamu adalah duri dalam daging. Beberapa kali melihat kamu di televisi berbicara terstruktur, penuh referensi, cara kamu mengimplisitkan bahan pembicaraan. Sangat berbakat untuk hal itu. Tidak heran jika kamu sendiri bertanya-tanya akan hal pemecatan di partai. Jangankan kamu, saya juga bingung. Posisi menjadi wakil rakyat bersifat vital. Yang menunjuk kamu menjadi wakil rakyat adalah masyarakat bukan? Kemudian, kenapa partai ikut campur urusan ini. Apa ada yang salah dengan sikapmu selama ini?"

"Hahaha, bli ini ada-ada saja. Kalau saya terlibat, semestinya sudah dipanggil sebagai tersangka. Dalam suratnya, partai mengatakan bahwa saya melanggar Pakta Integritas, menjaga nama baik partai serta memperkuat persatuan di dalam partai. Partai menjunjung tinggi agar kami para kader tidak melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme. Coba, dalam tiga hal ini sepertinya saya tidak melakukan pelanggaran."

"Sudah, diminum dulu kopi itu biar tidak dingin. Ini ada pisang goreng baru matang. Silahkan dicoba buat menamani kopi dalam lambung." Mek yan tersenyum kangen melihat wajah murung itu. "Saya tidak mengerti politik, jadi saya hanya mendengar saja." Mek yan melanjutkan pandangan ke arah pisang yang masih di lumuri tepung beras basah.

"Tidak apa-apa mbok. Saya cuma ingin mencurahkan penat saja. Kalau di rumah saya bercerita seperti sekarang, kasihan istri saya. Takut menambah masalah."
"Nyoman berarti sudah ditahan ya? Lalu kenapa kamu masih membela? Bukannya dalam beberapa media dikatakan memang benar-benar salah? Atau kamu ada bukti untuk mengatakan bahwa nyoman tidak salah?"

"Aduh mbok yan, kenapa bertanya hal seperti ini lagi? Tapi, ini dinamakan skenario politik. Jika tidak jeli melihat. Orang salah jadi benar dan orang benar jadi salah. Saya bukan membela mbok, tapi saya tidak terima jika teman saya diperlakukan semena-mena. Mbok dan bli tahu, nyoman pernah ditangkap sebelum ada bukti kuat untuk menahannya. Kemudian sekarang, dia digugat dengan beberapa bukti yang melenceng dari tuduhan. Masak bukti mereka adalah beberapa potongan berita media cetak. Betapa memalukan para pihak berwenang sekarang. Waktu tanya jawab dia ditanyakan masalah proyek yang sama sekali tidak berhubungan dengan kasus sekarang."

"Siapa tahu nyoman juga melakukan hal salah di proyek tersebut bukan? Kalau istilah kedokteran, itu dinamakan komplikasi. Jika terbukti, bisa sangat memberatkan nyoman. Hukuman i nyoman bisa berlipat ganda. Bayangkan jika kita dalam negara pemberi hukuman mati untuk koruptor."

"Penjara saja sudah cukup untuk membuat mereka introspeksi diri. Tuhan saja maha pemaaf, masa manusia tidak bisa begitu."
"Bli bangga kamu bisa mempertahankan interelasi dengan i nyoman. Tapi kalau menurut pandangan awam bli, sebaiknya biarkan saja nyoman diperiksa atas sangkaan itu. Jika memang dia tidak bersalah berarti perjuangan kamu selama ini terjawab oleh waktu."
"Saya tidak yakin dengan hal itu bli. Mereka punya kepentingan akan hal ini. Mereka bisa membeli apa saja bahkan nyawa!"

"Terlepas dari itu, biarkan saja karma yang menjawab. Tuhan punya beberapa cara untuk semua pertanyaan misterius di dunia. Dan tentang perjuangan. Sehebat apapun kamu disana, tapi bli masih kecewa dengan sikap bisa dikatakan seperti egois. Kamu lebih memilih satu orang sahabat sedangkan banyak sahabat disini menunggu sebuah kebijakan yang bisa merubah mereka kearah lebih baik. Sekarang? Bahkan kamu di pecat! Aduh ratu bhatara..." Kakek dan mek yan hanya geleng-geleng. Bagi mereka, pak kadek adalah sosok harapan atas gila lingkaran setan politik pemerkosa rakyat.

"Terima kasih bli sudah membesarkan jiwa saya."
"Maksud kamu apa? Bli tidak bermaksud menyombongkan kehebatan kamu. Yang bli katakan adalah sebuah kekecewaan." Pak kadek kembali menunduk. Menenggelamkan wajah renyuk dalam pelukan asap rokok kretek. Kakek tidak berpaling. Seakan menunggu jawaban.

"Harusnya kamu tidak larut dalam sesuatu yang memang seharusnya sudah di urusi oleh pihak berwenang. Lanjutkan saja prestasimu."
"Saya sudah melakukan semua tugas sesuai porsi jabatan saya. Dalam hal membela i nyoman, bahkan bli hanya melihat dari media bukan?"

"Semua dan masing-masing individu punya pembenaran. Tidak ada yang mau disalahkan. Mungkin dalam bahasa lain adalah kamu keliru dalam bertindak. Saat kamu masih menjabat, ada banyak kasus korupsi belum terselesaikan. Bahkan ada kasus besar menyangkut pak wakil presiden. Tenggelam tanpa usikan media, kenapa malah kamu dan i nyoman yang keseringan tampil di media."
"Itu cara saya berjuang bli. Perjuangan harus ditempuh apapun resikonya!"
"Jadi kamu sudah memperjuangkan agar pihak berwenang bertindak untuk kasus besar itu?"
"Aduh bli, kok jadi kesana? Maksud saya adalah tentang cara saya berjuang demi i nyoman."

Kakek hanya terdiam. Dia seakan berat untuk mengeluarkan suara. Pak kadek menatap kakek, setia menunggu kata demi kata. "Saya akan melanjutkan perjuangan bli."
"Terserah kamu, jika i nyoman menurut kamu lebih layak dari kami."
"Tidak, i nyoman sudah mereka bungkam dan saya sudah selesai dengan itu. Saya akan melanjutkan lagi harapan kita. Semoga kalian tidak dendam dengan sikap saya selama ini."
"Kamu sudah ada partai? Sepertinya saya salah pertanyaan. Orang seperti kamu pasti sudah di tunggu partai lain bukan?"
"Untuk partai belum saya pikirkan mek yan. Saya akan berjuang dengan jalur berbeda, nantinya akan sama seperti wakil rakyat. Hanya ada beberapa batasan saja. Untuk kita saya rasa akan cukup."
"Nah, semangat muda memang harus seperti ini. Saya traktir serombotan saja. Tubuhmu juga harus diperhatikan." Pak kadek tersenyum mendengar kata dari kakek. Wajahnya mampu memandang kami tanpa ada beban. Saya rasa serombotan memang makanan untuk mereka yang merasa seperti pak kadek.