Sekat

Barisan upacara bendera di sekolah pagi ini sangat rapi. Lurus seperti penggaris, tegak berdiri, keras bagai tatapan amarah. Tidak nampak beberapa kawan saya yang begundal bermain-main. Termasuk saya, kami tidak terlalu yakin dengan makna sepenuhnya dari ritual pagi setiap hari senin ini. Penghormatan terhadap bendera negara, nyanyian persembahan untuk para pahlawan, mengheningkan cipta serta pidato kepala sekolah.

"Pegel nih, sepertinya saya mau pingsan" bisik salah satu teman dari belakang. "Kamu itu ya, jadi pria kok rewel?" Ketus teman wanita menghardik. Hampir saja terjadi pecahan tawa jika tidak dihentikan oleh guru kelas di barisan paling belakang. Seperti sebelumnya, kami berlima harus maju kedepan dan berdiri dihadapan puluhan mata teman-teman sekolah karena menciptakan riuh tidak bertanggung jawab. Untuk saat ini saya memilih mengendalikan diri walaupun cekikikan terbungkus rapat.

Pulang sekolah, saya menemui kakek di warung langganan kami untuk sekedar bercengkrama. "Bagaimana hasil ulangan umum kamu? Dapat nilai merah?" Tanya kakek sembari saya perlihatkan buku sakral hasil belajar selama empat bulan di kelas enam. "Kok ditanya lagi kemampuannya gede, dia kan anak yang pintar" Ucap mek ayan seraya menyerahkan pesanan serombotan saya. Kakek hanya memandang buku itu dengan wajah datar. Nilai dengan angka enam sampai delapan terpampang rapi segaris. "Tidak banyak perubahan dari nilai sebelumnya. Mestinya ada peningkatan bukan?". Kulihat kakek tersenyum menyeruput kopi kentalnya. "Artinya kan gede sudah berusaha ya. Sudah, habiskan saja itu serombotan dan ganti bajumu." Mek yan menimpali.

Dirumah saya lihat sepupu dari jakarta datang. Rasanya tidak tertahankan. Biasanya saat mereka pulang, saya dan kakak diajak jalan-jalan ke kota. Membeli oleh-oleh di pasar seni Sukawati. Sembahyang di beberapa tempat suci di Bali. "Kok baru pulang? Keluyuran kemana saja kamu?" Tanya pak de sambil membaca surat kabar.

"Sudah, ganti baju saja, kita akan jalan ke pantai kuta sekarang." Bu de memandang saya dengan aksen jawa yang kental. Ya, istri paman saya adalah wanita keturunan jawa. "Sudah makan kamu de? nanti masuk angin di pantai." Tanya diah dengan memandangi kondisi kurus fisik saya. Diah adalah sepupu saya yang kakaknya bernama Bima. "Luh de?"
"Mungkin dia di pasar bu de."
"Wah, bantu ibu jualan kain? Sayang sekali, mungkin dia tidak tidak tahu kita pulang."

Di dalam mobil saya melihat-melihat gedung tinggi memantulkan sinar matahari lewat kacanya. Jalanan dengan warna hitam bergaris, lampu dengan tiga warna, berbagai benda aneh yang saya jarang lihat di desa. Juga itu, seseorang dengan memegang seperti gelas, mengulurkan benda tersebut disamping jendela mobil kami.

"Dik, kasihani saya. Belum makan dari kemarin" saya kaget karena kaca jendela tidak saya tutup. "Hah? Kok belum makan? Apa tidak ada warung disini?" tanya saya sambil melihat apa ada warung terdekat. "Kasi dia seratus rupiah de." Bu de menyodorkan sebuah koin dari kursi depan. Tidak mengerti, tiba-tiba dia pergi dengan kalimat terima kasih. "Siapa itu? Kok bu de memberi dia uang?" Heran saya tanpa melepas pandangan dari sosok misterius itu.

"Kuuutttaaaaaaaaaa!!!!" Teriak kedua sepupu saya menggila. Saya hanya ikut menimpali mereka mengejar dan berguling-guling dipasir putih. Lembab dan panas suhu disini. "Jangan jauh-jauh mainnya. Tak tinggal pulang baru nangis kalian." Kami tidak menghiraukan peringatan dari bu de. Yang kami lakukan hanya bergerak tidak karuan melampiaskan kesenangan. Mendirikan bangunan pasir, membeli jagung bakar, tapi tidak dengan mandi. Saya tidak membawa baju ganti. Disamping itu, ombak terlalu bergelombang untuk ukuran tubuh saya.

"Ayo de mandi." Bima menyeret saya, memercikkan air pantai dengan tangannya. Saya hanya tertawa tidak mau merepotkan mereka. "Jangan terlalu ke dalam mandinya!" Teriak saya sambil memegang jagung bakar. "Aku juga mau mandi aahhh." Kulihat Diah mendekati bibir pantai. "Jangan, nanti kamu hanyut." Saya menyeret tubuh mungilnya dengan halus kembali ketempat duduk semula.

Tidak henti-hentinya bima bersin bahkan sesampainya di rumah. Bu de hanya geleng-geleng sambil mengurut punggung Bima. "Memangnya jadi sawah bapak kena pembebasan lahan untuk pelebaran jalan?" Saya menoleh mereka, bapak saya, pak de dan kakek. "Tanah kita aman, cuma kena beberapa meter." Kakek menjawab dengan sekenanya karena asik menonton televisi.

"Biarpun begitu, lama kelamaan tanah mengering karena Subak akan terganggu." Suara berat pak de masih menyimpan banyak pertanyaan. "Sama seperti rumah saya di daerah petukangan, dulunya itu tanah sawah."
"Ya, dimana-mana daerah perumahan pastinya tanah sawah dulunya." Suara guyonan bapak saya akhirnya keluar.

"Bukan itu maksud saya. Ketika lahan sawah tidak ada pengairan yang baik, kan bisa jadi tidak produktif."
"Mau bagaimana lagi? Sudah ada surat edaran dari bupati. Punya kuasa apa kita berani menolak?" Kakek saya menoleh kedua anaknya yang asik ngobrol. 

"Kalau nanti tanah kita memang sudah tidak produktif, dirikan bangunan saja. Toko? Rumah?" Timpal kakek saya enteng. "Untuk apa lagi mereka membuat jalan baru? Biarkan saja kota dengan gedung bertingkat dan desa dengan sawah hijau. Jika semua didirikan bangunan, kemana saya harus mencari udara segar saat hari seperti ini? Klungkung adalah kota yang sepi. Jika di bangun banyak jalan, takutnya tidak akan ada yang melintas."

Kakek saya memandang pak de, tersenyum simpul. "Sudahlah, untuk apa membicarakan hal seperti ini? Saat kamu remaja, kenapa memilih tinggal di jakarta? Bukankah lebih baik kamu menjadi petani, Merawat sawah, menjaga. Supaya tidak dijadikan jalan." Pak de menyalakan rokok, tidak menjawab. Hanya terdiam dengan pandangan kosong.