Pendonor aktif

Apa yang kalian pikirkan? Jangan khawatir, saya menulis tentang donor darah. Bukan propaganda tato. hm, hanya akan menyinggung sedikit saja tentang itu. Hidup di Bali adalah sebuah anugrah. Cerita tentang hitam putih dunia berdampingan dan kami sebut Rwa Bhineda. Jadi secara individu, Spiritual dengan keduniawian mampu berdampingan. Tidak ada salahnya bukan jika kita menikmati apa yang kita yakini sebagai ciptaanNya?

Saya mulai sebagai pendonor aktif dari tahun 2007 dengan golongan darah B. Kalau dilihat di kartu donor pegangan saya, tercatat angka 17 September 2007. Masih dalam keadaan lugu dan polos, tak bergeming saat jarum besar lebih nakal dari nyamuk. Ganas menyedot cairan merah. Terlihat jelas berkelok anggun menyusuri selang besar berlabuh di kantong plastik. "Kalau merasa sakit kepala atau seperti akan pingsan bilang ya." Saya hanya menatap dia dengan tatapan tolol. Haruskah saya menjawab?

Telur rebus, pisang goreng dan kopi sudah menunggu saat sesudahnya. Pil penambah darah juga diberikan secara gratis. Namanya juga orang ngopi, rokok saya keluarkan dari dalam tas. "Aduh! Apa-apaan sih?". Masih dalam keadaan mengelus kepala karena dijitak, saya melihat kearah tanda larangan. "Ngomong kek, yuk pindah tempat cari lokasi". Kopi dan pasangannya tidak ketinggalan.

Hei, bagai candu benar ini proses menyedot cairan merah dalam tubuh. Selang 3 bulan saya mulai mencari tempat penampungan darah. Jika tidak, jerawat, bisul dan semua penyakit kulit menyapa riang. Keterlaluan!

"De, mau bantu saya? Saudara saya perlu darah di rumah sakit sanglah". Saya mengiyakan. Wow! Candu sudah memanggil rupanya. Agak sedikit bingung, dia menoleh kebelakang, "Kamu tidak apa-apakan?".
"Maksudmu?"
"Hanya meyakinkan diri saja, bukannya semalam kamu sempat minum alkohol?"
"Jangan khawatir, saya tidak mabuk kok". Tiba - tiba bersin melanda, tidak tahu kenapa. Mungkin alkohol dalam nadi saya terbangun karena merasa dipanggil. Berjalan gagah melewati tenggorokan dan terhempas dilobang hidung.

Donor berhasil, hingga beberapa kali saya melakukan aktifitas donor, pasti dalam keadaan setelah mabuk alkohol. Tenang, hanya saat beberapa waktu lampau. Saat anda membaca ini, tangan saya sudah dihiasi tato. Tetap, menyumbangkan sesuatu dari nadi masih berlanjut.

Tidak ada yang menolak saat saya mengulurkan tangan yang berisi tato untuk ditancapkan jarum besar. Heran saja, kenapa di beberapa artikel terdapat judul "Memakai tato tidak bisa donor darah". 

Beberapa kawan saya sampai sekarang menjadi pendonor aktif. Biasanya kita bergerak saat sudah ada kondisi gawat atau memang ada yang memerlukannya. Terutama dari kalangan tidak mampu. Jika pemerintah selalu berkampanye tidak ada diskriminasi apapun di rumah sakit. Itu seperti teriakan seseorang yang baru mengenal dunia luar!

Uang yang susah payah mereka kumpulkan, bekerja siang malam, mengabaikan kesehatan. Saat jatuh sakit, hasil jerih payah hanya digunakan untuk biaya rumah sakit, terutama membeli darah! Hei, wajarkah ini?

Sementara, ya, kalian tahu sendiri. Bahwa dokter mengeluh! Mengeluh saat pasien miskin ini mendapat bantuan dari seseorang dan pemerintah. Sebentar, kenapa dokter harus mengeluh? Bukankah asal uang yang diberikan pemerintah tidak diambil dari dompet si dokter? Apa karena pemerintah terlambat membayar si dokter? hmmm.... Semoga tidak semua dokter berperilaku seperti ini.

Darah manusia sangat langka. Kalian tahu, bahwa hanya beberapa tetes saja bisa didapat dari 1 kantong darah dari yang saya donorkan. Bayangkan, saya dengan beberapa kawan hanya berpuluh orang. Sementara pasien pencari sukarelawan berjumlah ratusan bahkan ribuan orang. 

Saat anda menjadi pendonor itu tandanya anda sangat sehat! Memberi sedikit cairan dalam tubuh untuk membantu hidup seseorang agar berlanjut, saya rasa itu perbuatan mulia. Merokok, memakai tato, minum alkohol dan semua yang kalian anggap hitam dunia pernah kami lakukan dan berlangsung.

Buatlah keseimbangan itu nyata kawan!