Botol

Kami mendapat undangan dari kawan lama. Bukan acara pernikahan, acara ulang tahun? Sepertinya dia terlalu tua untuk melakukan hal semacam itu. Terhitung sudah 5 tahun kami tidak bertemu. Karena seseorang dari kami menjadi garam, beberapa menjadi bumbu dalam piring. Dan dia mungkin seperti gula. Saya rasa itu terdengar sangat jahat. Mungkin semacam buah pare.
"Wah, saya benar - benar tidak mengerti. Apa kamu sekarang menjadi pencuri? Penipu mungkin?" Saya hanya melihat tampang bodoh kawan sekilas. Beberapa menit kami habiskan untuk memandang rumah khas gaya bali. "Tidak, kehidupan saya sampai sekarang masih wajar gung. Bisa kita duduk sekarang? Atau kamu mau menghabiskan waktu dengan berdiri mendongak bodoh?"

"Ayo duduk gung, pacarmu nampak merasa malu dengan gila heranmu." Dia duduk dengan pandangan masih tidak percaya. "Bagaimana bisa? Kamu menjual lahan sawah?" Wayan hanya terkekeh tanpa menjawab pertanyaan bertubi dari agung sembari meninggalkan kami untuk mengambil kudapan. Saya menyusul dia ke dapur. Memeriksa kotak pendingin, saya menemukan beberapa botol dingin. Tersenyum nakal enggan lepas dari genggaman.

"Kenalin, ini anak saya. Ayo, salaman sama om dan tante. Mereka sempat menjadi pembantu disini." Kami saling pandang, menatap bengis. Sebuah benda dengan bentuk bulat dari bahan semacam plastik mengarah tepat di belakang kepala orang dengan mulut tanpa ijasah. "Kamu, jangan berkata yang aneh-aneh di depan anak kita!"
"Nanti malam, jangan beri dia apapun mang. Biarkan saja dia bernostalgia dengan sabun." Saya hanya mampu menahan tawa. Memperlihatkan hal bodoh di hadapan perempuan kecil hasil pernikahan mereka saya rasa belum tepat.

"Bukankah jarak dari rumah kalian masing-masing dengan rumah ini tidak terlalu jauh? Kenapa baru sekarang mampir?"
"Sibuk mang, sepertinya wayan juga tidak akan pernah mengijinkan mampir."
"Iya?" Komang, istri dari wayan seketika memandang heran suaminya. Menunggu jawaban, sepertinya dia berharap sesuatu yang bisa masuk di akal.
"Hah? Jangan bodoh, dan dia belum sembuh benar dari sakit jiwa." Komang hanya terkekeh mengusap rambut suaminya. Berlalu menuju dapur mengambil beberapa kudapan lagi.

"Kenapa kita bisa tidak pernah tahu kalau kamu punya rumah di wilayah ini?"
"Bukan, ini adalah rumah bibinya komang." Kami celingukan, takut kalau akan membuat bibinya komang merasa terganggu. "Nyari siapa kalian berdua?" Saya dan agung saling pandang heran. "Sssstttt.... Jangan sampai bibi terganggu dengan keributan kita."
"Hahahaha, bibi sekarang berada di luar negeri."
"Iya, sekarang cuma ada kami tinggal di rumah ini."
"Dititipkan?"

Mereka berdua seirama menganggukkan kepala. Para wanita kami di ajak masuk ke dalam ruangan oleh komang. Nampak beberapa barang elektronik bernilai jutaan rupiah menunggu. Film drama korea yang mereka mainkan kalah seru dengan obrolan tanpa arah. Kami masih di teras, sayup - sayup angin memeluk manja. Hamparan luas sawah terpampang jelas dari balik tembok. Botol dengan tulisan untuk umur 20 tahun ke atas sudah terbuka. Ya, kami siap untuk selanjutnya!

"Lantas? Berapa tahun kamu akan tinggal disini?" Saya bertanya, asap batang tembakau keluar secara perlahan dari paru - paru mengikuti alur bibir. "Sepertinya akan berlangsung lama. Cuma, ada salah satu dari keluarga komang menginginkan untuk tinggal disini. Artinya mereka mau kami segera pindah." Saya dan agung saling pandang. Dahi kami serempak mengernyit. "Maksud kamu?"

"Iya de, salah satu keluarga saya ingin menempati rumah ini. Sepertinya mereka mengira bahwa merawat rumah ini akan mendapat uang tambahan." Suara lantang terdengar dari dalam ruangan. Hanya beberapa kata, selanjutnya riuh tanpa jeda. "Nah, sudah paham?" Wayan tertunduk sambil tersenyum. "Mereka tidak tahu. Biaya untuk pembayaran listrik, mengganti perbaikan seperti lampu rusak, membeli pupuk pohon anggrek, apa bibi mau peduli tentang semacam itu?"

Kami mulai terdiam. Saya mematung, tenggorokan kering, otak seakan tidak bisa memfungsikan bibir untuk setidaknya bergerak memberikan ekspresi. "Apa bibi tahu jika mereka berencana menempati rumah ini?"
"Sepertinya bibi belum tahu gung. Sudahlah, apa kalian bertamu kesini cuma untuk membuat saya semakin bingung?"

"Hei? Bukankah kamu sendiri mengawali dengan pembicaraan model begini?" Suara tawa keluar tanpa belenggu. Kami sudah semakin tidak terkendali. "Tapi saya sedikit terganggu dengan tingkah dari salah satu keluarga komang. Entah, dari siapa dia belajar untuk memanfaatkan keluarga hanya demi materi."

Brak! Suara pintu kendaraan terdengar sangat keras. Kami menoleh ke arah pintu masuk. Terlihat wanita setengah baya mengenakan pakaian adat bali. Tangan kanan berhias gelang emas menjinjing sarana upacara. Kami menyebutnya banten. Tanpa tegur sapa. Hanya melewati kami, menoleh saja tidak. Wayan diam tenang dengan senyum pasrah. Komang keluar dari ruangan. Membantu nenek tadi menyiapkan semua.

Saya masih mengawasi pintu depan. Tidak terlihat bahwa ada orang lain lagi selain nenek itu. "Orang itu siapa?" Wajah wayan mendekat perlahan kehadapan kami. "Orang itu adalah objek dari pembicaraan kita."
"Bukankah hari ini tidak ada hari raya? Kenapa dia berpakaian seperti itu?"
"Sudah biasa gung, hampir setiap hari dia kesini untuk sembahyang."
"Untuk apa?" Saya juga menunggu jawaban pasti dari wayan. Tapi, wayan berdiri dan bergerak menuju merajan dimana nenek itu dan komang melaksanakan persembahyangan.