Anjing

"Hei, Bro!" Saya memalingkan wajah kebelakang. "Iya?". Wanita muda itu tampak heran melihat saya. Mengangkat bahu dengan tampang tidak berdosa. Entahlah, saya yakin dia memanggil seseorang dengan suara lantang. Karena masih bingung, saya hanya terduduk untuk menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sembari melihat di sekitar, memang cuma saya yang berada tepat di depannya. Beberapa orang terlihat hanya lewat sebentar dengan berlari-lari kecil. Sepeda saya letakkan di sebelah kanan dengan posisi tertidur. Iya, memang sengaja tidak saya beri penopang.
Beberapa waktu lalu saat masih saya pasang penopang. Jalan rusak, gundukan, serta pembatas kecepatan adalah penyebab dari perkara itu. Terjuntai mengganggu perjalanan. Saya masih melihat wanita muda tadi. Kalian tahu? Dia sebenarnya memanggil peliharaannya! Jadi? Sudahlah, saya melanjutkan mengayuh sepeda menuju warung bu ketut.

Tumben, mungkin karena hari minggu. Apalagi sekarang hari bebas kendaraan untuk wilayah sekitar lapangan renon. Karena masih belum ada tempat duduk, saya melanjutkan satu putaran lagi dengan sepeda.

"Jadi, hanya setiap hari minggu warung ibu ramai?"
"Bagaimana mana kamu bisa tahu? Harusnya kamu datang setiap hari untuk memastikan." Dia mendekati saya, mengarahkan bibir tuanya hampir menyentuh telinga saya.
"Kamu lihat, wanita muda disampingmu sesekali melirik wajah tolol yang kamu punya." Saya hanya diam. Takut untuk segera menoleh. Botol air mineral dingin seakan tidak mau lepas dari pagutan bibir saya.

"Ini mie rebus pesananmu."
"Buatkan juga saya bu, persis seperti pesanan dia." Saya menoleh kearah suara tadi. Ternyata wanita itu! Apa ini? Semacam bentuk teror atau apa?
"Ini, kamu saja yang makan dulu, saya bisa pesan lagi."
"Hah? Apa?". Dia memperlihatkan wajah heran untuk kedua kalinya. Tidak! ternyata yang wanita itu maksud adalah nasi goreng milik seorang pemuda disampingnya. Saya dan bu ketut beradu pandang dengan tawa tertahan.


Saya melihat anjing yang dibawa wanita itu. Ukuran tubuh nya kecil, bulu lebat menyapu bidang, ekornya selalu bergoyang. Nampaknya hewan itu tidak akan lari kemana-mana. Terikat pasti dengan rantai paling tidak untuk harga, bisa mendapatkan 2 kardus mie. Jauh berbeda dengan hewan yang tertidur pulas di samping kaki kiri saya. Namanya sempol. Tanpa dirantai, bebas. Oleh masyarakat bali sendiri, disebut jenis anjing kacang (kuluk kacang). Hei, bukankah itu terdengar aneh untuk nama hewan.

"Bu ketut, ini si sempol kenapa masih di biarkan tanpa rantai?"
"Buat apa?"
"Tidak takut di anggap anjing liar dan di suntik mati?" Dia kelihatan tidak terpengaruh, masih melakukan aktifitas membuat nasi goreng pesanan dari wanita tadi.
"Pemerintah sekarang berlagak seperti Tuhan! Hidup mati seekor anjing dia penentunya."
"Mungkin, tapi setelah banyak anjing liar diberantas, berita tentang penyakit rabies sudah tidak terdengar."
"Memangnya saat beberapa orang kena penyakit rabies, kamu selalu mengawasi dan membuat data aktual? Apa kamu tahu? Si sempol selalu ikut dengan ibu saat keluar rumah. Tidak pernah iseng menggigit orang."


"Kalau pemerintah mau, harusnya yang disuntik mati adalah pemerintah sendiri, bukan anjing yang berkeliaran di jalan. Menghilangkan nyawa dan membatasi hak hidup, apa mereka sudah gila?"
"Sebenarnya saya tidak terlalu menyimak tentang pemerintah yang berlagak jadi Tuhan. Tapi memang, sekarang anjing liar sudah sedikit terlihat."
"Oh iya? Lantas, mereka merasa sudah menang begitu? Beberapa kali dalam 1 tahun, pemerintah membunuh nyamuk dengan meracuni mereka melalui udara. Menyemprotkan asap tebal. Jangankan nyamuk, saya pun sakit kepala oleh baunya."

Mie rebus dan minuman berenergi dingin saya habiskan. Asap rokok kretek dengan filter saya hembuskan. Angin memang mengarah ke kanan saya. Wanita itu, untuk ketiga kalinya mengeluarkan tampang aneh. Saya berdiri dan menuju kursi lain. Pengunjung warung semakin sedikit, matahari tepat di atas kepala. Sempol berpindah tempat mencari tempat teduh untuk istirahat lagi.

"Hei, itu anjing jenis apa?"
"Menurutmu?" Wanita itu menjawab ketus, pemuda disampingnya menoleh saya dengan sedikit gusar.
"Maafkan dia nak, memang sedikit begajulan orangnya." Saya hanya tersenyum mengangguk menatap mereka beranjak.
"Sekarang kamu tidak bisa menyapa orang sembarangan de."
"Hanya menanyakan saja, tidak bermaksud apa-apa kok." Apa sapa menyapa dengan orang asing hanya berlaku di media sosial?.


Saya melihat mereka berlalu dengan kendaraan roda dua bermotor tanpa memakai pelindung kepala. Terlihat wanita duduk di belakang sambil memangku kandang anjing jinjing.
"Sepertinya rumah mereka tidak jauh dari sekitar sini bukan?"
"Iya nampaknya. Mereka berdua sering berbelanja di warung."
"Kenapa tidak jalan kaki atau naik sepeda?"
"Tidak semua orang berfikir seperti kamu de."

"Oh iya, si sempol sudah di suntik anti rabies?"
"Kamu pernah ke pura goa lawah?"
"Iya, pernah."
"Kamu sudah bertanya dengan mereka yang disana? Apa semua kelelawar disana sudah disuntik anti rabies? Kucing, monyet, rubah dan luwak. Bukankah itu binatang penghasil rabies juga? Sebenarnya penyakit paling meresahkan adalah aids bukan? Kenapa mereka tidak di suntik mati?"