Alasan

Saya berhenti di warung teman saya. Capai mengayuh sepeda dari berkeliling. "Bli, seperti biasa."
"Kamu, sudah berapa kali saya katakan, masih saja mengayuh sepeda. Zaman sudah canggih, sudah ada sepeda motor, angkutan umum."

"Kalau semua naik kendaraan berbahan bakar, kasihan pemerintah harus membagi APBN untuk memberikan subsidi bahan bakar." Dia menyerahkan pesanan saya dan duduk berhadapan dengan saya. "Kamu sudah makan? Mbok masak ayam goreng." Saya melirik sambil minum air mineral dingin.
"Sekalian bawa nasi dan lauk pauk kesini. Saya juga belum makan."
"Iya, tidak usah berteriak seperti itu. Saya juga mengerti bli." Saya membawa semua persediaan makanan dari dapur ke meja di depan warungnya tempat anak muda berkumpul saat malam hari.

"Itu sayurnya juga jangan di lewatkan. Menjaga metabolisme tubuh agar kamu segar."
"iya iya, cerewet amat bli ini"
"Belum ada uang ya? Memang berapa bayaran kamu kalau dapat kerja? Setahu saya,  menjadi tukang potret adalah pekerjaan yang mahal?"
"Hmm, memang sih ya, cuma Peralatan memotret saya kurang memadai. Belum lagi kamera, yang saya pakai kurang dari persyaratan untuk menjadi seorang fotografer profesional."
"Kekurangan modal ya? Cari pinjaman saja?"
"Selain pinjaman, untuk mencari pelanggan juga harus lihai."
"Bagaimana mau mencari pelanggan. Lihat, kerjamu setiap hari hanya berkeliling dengan sepeda." Saya menghabiskan makan satu porsi dengan cepat. Menahan rasa lapar sedari kontrakan tidak dapat ditutupi oleh idealisme gila ini.

"Kalau akan bersaing di daerah kota dengan kondisi sekaran memang susah bli. Keinginan saya menyambangi daerah pedalaman. Berbagi cerita dengan kamera."
"Mimpi sih boleh saja, tapi aktualisasi harus terjadi juga. Kadang kalau kita kebanyakan bermimpi susah untuk dijalani. Yang penting sekarang adalah bagaimana cara kamu bertindak. Ingat, cara!"
"Lalu? Bagaimana saya harus mulai mengawali?" 
"Pelan-pelan saja untuk memulainya. Kamu sudah selesai makan? Semua yang berserakan ini bersihkan kembali."

"Sekarang untuk segala sesuatu seperti mencari nafkah semakin susah. Saat berbicara tentang membangun usaha sendiri, untuk diterima kerja di perusahaan atau sejenisnya pun susah." Saya hanya terdiam menunduk mendengar kalimat dari itu sembari menyulut rokok.

"Jangan hanya bengong. Ingat angka umur sudah semakin bertambah. Sekarang, untuk membayar sekolah dasar saja harus melubangi kantong sendiri dan kantong bank. Biaya membesarkan anak semakin ganas! Tidak terbendung lagi. Kalau tidak memulai dari umur seperti kamu sekarang, kelak kamu hanya akan menjadi seorang ayah tidak bertanggung jawab. Itupun jika kamu memilih untuk menikahi wanita. Beda jadinya jika kamu enggan melakukan sesuatu seperti mengikat komitmen."
"Memangnya semahal itu pendidikannya si putu? Dia masih kelas satu sekolah dasar bukan?"
"Uang untuk bayar SPP, komite sekolah, buku tulis, buku paket setiap mata pelajaran, buku tambahan, iuran les wajib, les tambahan dan masih banyak. Bli sendiri sudah sangat bingung harus mencari dana tambahan dimana."

"Uang jajan, si Putu berapa Bli anggarkan?"
"Tidak sepeserpun. Bli kasi dia bekal nasi kotak, air mineral, jajanan dari warung. Mau uang jajan untuk apa lagi? Mbok biasanya mengatur itu. Kan bli kerja mulai malam hari sampai jam 6 pagi di apotik. Sepertinya kamu seorang yang hebat, masih bisa bertahan hidup dengan uang hanya tinggal beberapa angka."
"Bisa lah. Kalau memang sudah tidak ada uang lagi kan bisa minta makan di rumah ini." Kami hanya terkekeh bergelut asap rokok.

"Tapi untuk masa depan, kamu harus mulai merencanakan semuanya. Percuma sekolah tinggi-tinggi biarpun tidak lulus. Setidaknya ada ilmu kehidupan mengendap di pikiran mudamu."
"Kenapa harus ada kalimat sekolah tinggi-tinggi biarpun tidak lulus? Menghina? Bli tahu sendiri kan kuliah sekarang? Biaya yang diminta oleh pihak kampus sangat mahal. Tidak semua orang bisa menjadi mahasiswa bli. Tanggung jawabnya di masyarakat sangat besar jika sudah menyandang gelar sarjana."

"Bli mengerti. Sadari, sarjana sekarang hanya sebuah persyaratan untuk menjadi pengangguran elit. Sukses ketika keluarga atau dirinya sendiri dekat dengan orang berpengaruh. Jika tidak, hanya berakhir menjadi pegawai bahkan pelayan di warung makan atau toko modern."

Kami menatap kosong jalanan dengan suara deru ramai kendaraan. Suasana siang ini sangat panas dengan matahari tertawa lebar memuntahkan semua sinarnya ke bumi. "Ada usaha lain yang kamu punya selain menjadi tukang potret?"
"Ada bli, tapi masih membangun juga. Membuat baju dengan desain sendiri. Kalau sudah jadi, bli harus menjadi salah satu pelanggan!"

"Kenapa tidak, asalkan harganya tidak keterlaluan. Mau jualan apa merampok." Saya hanya tertawa mendengar jawaban konyolnya. "Mengenai kuliah, apa benar-benar sudah tidak akan kamu lanjutkan lagi?"
"Sebenarnya masih ingin saya teruskan bli. Selain masalah uang untuk membayar semester dan tugas, beberapa dosen membuat saya muak!"

"Kamu tidak seharusnya menggunakan ego bodoh untuk masa depan. Juga, sepertinya kamu tidak lebih hebat dari dosen tersebut."
"Kalau masalah pengalaman, uang dan umur saya memang kurang dari dosen yang memang saya tidak suka. Bukan masalah dosen itu terlalu tegas atau galak. Coba, terkadang ada dosen yang jarang mengajar. Beberapa menggunakan metode pembelajaran seperti mengajar anak sekolah dasar. Juga berceramah tanpa tujuan melenceng dari pokok pembahasan. Anomali beberapa dosen pengajar saya begitu menonjol."

"Yang namanya mahasiswa kan harus bisa belajar sendiri, mencari sumber acuan terkait perkuliahan yang pokoknya dia bisa berdikari mencari ilmu. Masak harus diketok layaknya paku?"
"Kalau seperti itu mendingan tidak perlu kuliah bli. Secara ideal adalah apa saya harus melanjutkan kuliah hanya untuk sekedar mencari ijasah sarjana?"

"Saya rasa semua tentang kuliah tidak seperti pemikiran picikmu. Dosen juga bisa menguji kesabaran mahasiswanya."
"Menguji kesabaran? Kesabaran itu tidak ada batasnya bli. Jika ada batasnya berarti bukan kesabaran namanya."

"Kamu ini kok banyak alasan? Jika memang tidak mampu menjadi mahasiswa bilang saja terus terang. Jangan mencari-cari sesuatu seperti ini."
"Saya hanya tidak mampu memahami sistem pendidikan di kampus saya bli. Makanya saya lebih memilih mengundurkan diri daripada menjadi orang yang tidak mempunyai alasan sama sekali untuk bertahan hidup."

"Hmm, iya, jika itu memang keputusan dari pemikiran usiamu saya terima saja. Kelak, semoga saja kamu mengerti betapa pentingnya selembar kertas itu." 
"Tidak, saya sudah beberapa kali merasa sangat terbebani dengan hal ini. Bisnis yang paling membuat kita kaya salah satunya adalah pendidikan. Entah, tapi semua orang punya pilihan hidup bukan?"

Sepeda masih menunggu untuk saya kayuh lagi. Sementara matahari masih berdiri gagah, tidak ada salahnya jika merebahkan diri sebentar di sofa."